Ini perkara (yang tidak saya sambung-sambung ke agama) yang membuat saya banyak bertanya-tanya, dan menonjolkan betapa pendek pikiran manusia.

Anda pasti sering memikirkan tempat anda sesudah mati. Tentunya. Siapa juga yang nggak peduli nanti sehabis kita tiada, jiwa kita ke mana. Sampai banyak mimpi buruk, film horror, dan ide-ide gila berkeliaran.

Tapi kapan anda terakhir berikir di mana kita berada sebelum lahir?

Mungkin memang sudah dari sananya kita begitu. Biasa meninggalkan satu tempat tanpa ragu-ragu, kemudian pergi belajar atau bekerja, dan kembali ke tempat itu dengan santai dan tenang.

Bukankah alam di luar dunia tidak seperti itu?

Coba dipikir-pikir. Bukankah kita saat ini hanya mengenal satu alam – alam kita? Dan kita semua berspekulasi tentang kehidupan sesudah mati. Padahal ada banyak sekali “alam” di mana kesadaran kita berlaku (walaupun kita mungkin tidak mengingatnya, berhubung ingatan ada di dalam otak) namun alam tersebut memiliki hukum berbeda – dan kita abaikan semua itu.

Alam mimpi, misalnya. Kita semua pernah ke sana. Suatu alam yang terpisah dari dunia kita, di mana hanya ingatan kita yang bisa masuk dan keluar. Alam itu tidak memegang hukum seperti alam “ini.

Dan bagaimana alam sebelum lahir? Kita semua pasti pernah ke sana. Kita tidak ingat, iya. Kita tidak bisa menebak alam itu, iya. Kita juga tidak akan ke sana lagi, iy– tunggu. Iya? Dari mana kita tahu? Dari mana kita berusaha menebak sistem alam-alam ini?

Kita tidak tahu, dan orang yang sudah tahu tidak bisa memberitahu kita. Jadi, pasrah?

Mungkin.

Mungkin juga tidak.

Pemikiran ini sebenarnya memiliki efek mendalam pada kehidupan kita. Seandainya kita semua berpikir tentang yang sudah lewat, untuk menebak yang akan datang. Kita akan tahu bahwa kemarin jalan itu macet, hari ini mungkin juga. Kita akan tahu bahwa gunung itu akan meletus lagi. Kita akan tahu bahwa tidak semua orang bisa dipercaya. Kita akan tahu bahwa menggunakan HP di kendaraan bisa menyebabkan kecelakaan.

Kita akan tahu bahwa membuang rokok ke tanah bisa menyebabkan kebakaran. Kita akan tahu bahwa mengendari motor harus hati-hati, berhubung lebih dari 50% korban jiwa kecelekanaan kendaraan adalah pengendara motor. Kita akan tahu bahwa memakan sirip ikan hiu menyebabkan berkurangnya kualitas ikan-ikan untuk makanan. Kita akan tahu bahwa kondisi hutan dunia sudah kritis. Kita akan tahu bahwa asap dari bus kota yang kotor mengurangi masa hidup orang di sekitarnya.

Kita – saat ini – belum tahu asal dan tujuan kita. Tapi pakai pelajaran itu – selagi bisa.



7 Responses to “Sebelum lahir, sesudah mati”  

  1. 1 reniii

    HAHAHAHAHAHAHAHAHA

  2. High-quality comment, hahahaha…

  3. hmm.. gw juga pernah mikir seperti itu…
    dan jujur, itu bikin gw takut..
    takut apa? kehampaan..

    hmm.. menurut gw, ada beberapa hal di dunia yang tidak harus dipertanyakan.. kalo tetep bertanya cuma bikin gilaa..
    kedua hal seperti judul posting lo itu contohnya..
    :lol:

  4. Karena kalau dipertanyakan, ada juga bisa lebih gila. Hahahaha. (Mungkin sebentar lagi akan ada post yang sedikit lebih gila… Muahahahaha! :P )

  5. 5 Rofni

    Trus apa yang harus kita lakukan agar tidak menjadi takut?

  6. 6 Rofni

    Trus bagaimana caranya supaya kita tak takut lagi atas kenanehan-keanehan, apakah berpikiran begitu kita sakit jiwa?

  7. 7 nay

    hmm..ini maksudnya apa ya??
    “Kita akan tahu bahwa memakan sirip ikan hiu menyebabkan berkurangnya kualitas ikan-ikan untuk makanan.”


Leave a Reply