kitateman

So it’s not right for you guys to accuse us for stealing. And it’s not right for us to claim that it’s ours. (but if you read an article or book about our culture, we’ll always mention the origin) It’s just so immature… like two kids fighting over a toy. – Vulpine Ninja @ Deviantart

Tak bisa lebih setuju dari ini.

Ada budaya Indonesia, ada budaya Malaysia. Masing-masing jadi kebanggaan kita. Tapi budaya bukan berarti jadi milik ekskulusif; culture is shared among humankind, to cherish and enjoy – together.

Kenapa negara kita ribut? Karena iklan yang tak sengaja menampilkan budaya Indonesia? Karena tenaga kerja yang diperlakukan tidak senonoh? Karena ada posting forum provokatif?

Apapun yang terjadi, budaya kita mempunyai asal yang kira-kira sama. Kita adalah sahabat yang serumpun; antara kita para rakyat, tak ada alasan untuk membenci; kita tak ingin ribut. Kita ingin damai dan bersahabat, walau ada orang dan media yang berusaha tampak “nasionalis”. Lupakan saja, di antara kita sendiri tidak ada keinginan untuk marah.

Iklan jadi masalah? Namanya “kesalahan”, teman.

Aduh, namanya juga iklan. Kasusnya: dalam background suatu iklan dokumenter malaysia, ada gambar tari pendet, tari asal Indonesia. Saya rasa ini sungguh bodoh untuk disalah-salahkan. Si pembuat iklan tentu mencari gambar berkualitas untuk iklannya, lalu menemukan gambar itu, merasa bahwa itu merupakan budaya dari daerah Malaysia, dan menggunakannya dalam iklan. Kenapa ribut sekali?

Di media, di mana-mana ada pembicara mengajak perang, atau marah, atau dendam pada Malaysia. Padahal ada berita seperti berita dari okezone ini, yang entah mengapa tak sampai di layar TV:

AKARTA – Departemen Luar Negeri menyarankan agar masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi seperti melancarkan protes, dengan tampilnya tari Pendet asal Bali di iklan visit year Malaysia.

Demikian dikatakan juru bicara Deplu Teuku Faizasyah dalam jumpa pers di Kantor Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (21/8/2009).

“Kita harus lihat dahulu seperti apa, kalau hanya dijadikan background iklan, seharusnya kita tidak terprovokasi seperti melancarkan protes. Ini malah bisa jadi sarana promo kita,” kata Faizasyah.

Dia menambahkan, Indonesia pernah menjadikan Eropa sebagai background iklan.

Ditanya mengenai tindakan Deplu terkait isu yang sempat ramai diperbincangkan itu, Faizasyah mengaku pihaknya belum melakukan tindakan apapun.

“Kalau itu sudah jadi isu publik akan kita tindak lanjuti. Intinya belum ada klaim dari pihak Malaysia, hanya iklan,” pungkas dia.

Kenapa para “nasionalis” berkoar, tapi berita ini tak pernah sampai?

Discovery Channel pun telah meminta maaf. Tapi pemerintah Indonesia tetap menuntut permintaan maaf dari pemerintah Malaysia. Permintaan maaf apa? Kenalilah yang namanya ketidaksengajaan… Tak segalanya ada yang salah dan ada yang benar. Tari pendet hanya muncul selama beberapa frame dalam iklan itu. Nggak ada tulisan besar yang menunjukkan nama tarian dan kata-kata bahwa ia berasal dari Malaysia. Itu hanya hiasan lewat…

Gimana kalau ada iklan pakai menara Eiffel untuk latar belakang? New York? Piramid? Pernah ada claim seperti ini? Tidak~

Ampun. Di Internet aja sensitif bener…

screencap

Yang satu ini benar-benar jadi pertanyaan buat saya. Selamat datang di Internet, wahai media Indonesia. Kalau mau sensitif pada penghinaan, caci maki, plesetan mentah-mentah, silahkan dicari, tak akan pernah habis di Internet. Satu post saja langsung dikritik dan ditentang? Masih dimengerti kalau lagu ini disebarkan atau dinyanyikan secara umum; ini hanya post sederhana di suatu website.

Buat kita yang uda biasa di internet, ini pasti bukan hal baru. Malah uda biasa, lewatkan aja tanpa dipikir. Tapi tampaknya ada orang yang ingin mencari setiap kesempatan untuk mengadu domba kedua negara ini. Entahlah.

Dengan adanya topik itu, ramailah caci maki dari kedua pihak di sana. Sesungguhnya orang yang mencaci di forum itu bukanlah anggota salah satu dari kedua negara kita. Mereka adalah troll yang tak punya tempat tinggal di internet, dan mencari kesenangan dengan menghina-hina tanpa alasan jelas di internet. (Sebagian besar saya rasa masih muda.) Mereka bukan “orang yang sering menulis online” seperti diberitakan di media massa.

Polisi: “Kami akan berkerja keras menemukan pelaku penulis teks ini.”

Good luck~

Budaya bukan sesuatu yang dimiliki, tapi dicintai

goverments always do the stupidest things.

but what i don’t get, is what copyrighting anything will do? it doesn’t prove that the culture is yours – just that you have a better lawyer. no one would be convinced that “this is my culture because i CR’d it”. culture is ingrained in people’s attitudes, habits, way of thinking – it is PART of a person, and that can’t be copyrighted.

why don’t goverments understand this? they’re supposed to be the smart people with all the degrees! why make problems for everyone else over something so…obscure?

would it hurt them to do as australia did and research the lost culture – sure they won’t get everything back, but they’d have something they can be truly proud of. – celeste84 @ DeviantArt

Kata-kata itu sudah cukup. Kita tak perlu berebut budaya; budaya hanya sehebat bangsa yang menjunjung tinggi budaya tersebut. Tak ada artinya punya budaya bila tak ada yang memahami dan mencintai budaya itu. Tak ada pencurian budaya di sini; hanya berbagi budaya. Apakah itu salah? Apakah dilarang membawa makanan dari Indonesia ke Malaysia? Apakah salah membawa model baju Jepang ke Amerika? Tidak ada…

Cintai budaya kita masing-masing, dan junjung tinggi.

Jika Indonesia memang mempertahankan budaya itu dengan tepat, seharusnya saat seseorang melihat iklan itu, ia akan teringat “Indonesia”. Jika tidak, maka kesalahan ada di sisi kita.

Santai saja, dan tak perlu dibuat kasar. Memangnya ada yang akan melihat beberapa frame dari iklan tersebut dan mempertanyakan isinya?

Sudah, ini hanya kerjaan “mereka”…

Media jauh terlalu dramatis soal ini semua. Mereka memanfaatkan setiap “aksi” menentang hal ini dan mengundang pembicara; bahkan mengklaim “hal ini membuat para blogger dan komunitas online Indonesia marah.” Blogger? Komunitas online? Saya lihat twitter saya; yang ada orang berkomentar tentang berlebihannya ini semua. Blogger apa? Ada yang post, tapi sedikit yang bernada mengecam. Media membesar-besarkan dengan menyangkut paut dengan kejadian sebelumnya.

Berlebihan.

Tak ada alasan untuk semua perselisihan ini.

Kita, para rakyat Indonesia, tak punya dendam pribadi atas Malaysia; dan saya rasa, saudara saya di Malaysia pun tak membenci Indonesia. Hanya pemerintah yang berusaha “nasionalis” dan media yang membakar-bakar amarah. Sungguh saya kecewa pada pemerintah dan media negara saya. Sangat tidak dewasa.

Terima kasih untuk Archie-The-RedCat dari DeviantArt untuk post jurnal yang menginspirasi saya menulis ini. Semoga masalah ini cepat selesai, dan kesalahpahaman dituntaskan…


Hari ini sekedar untuk latihan otak, saya mengunjungi website yang diakui pemiliknya sebagai pernyataan bertanggungjawab atas pemboman di Jakarta pada 17 Juli. Namun di atas itu, saya memfokuskan pada bagian komentar dari post satu-satunya. Soal benar atau salah saya serahkan pada polisi; yang ingin saya tunjukkan di sini adalah~

Catatan: saya telah mengsensor komentar dari kata kasar, tapi tetap, mohon baca dengan peringatan bahwa bahasa tersebut mungkin tidak nyaman bagi anda. Post ini ditujukan sebagai konten humoris.

Continue reading ‘Tipe Komentator Indonesia’


Siang ini saya yang baru pulang ke Jakarta mengunjungi pameran inovasi kreatif di Jakarta Convention Center (JCC). Saya kira bakal menemukan ide-ide terbaik bangsa dalam kondisi yang menarik dan menginspirasi. Pokoknya yang bisa bikin kita percaya sama kemampuan enterprenur kreatif dalam negri.

Hasilnya? Kecewa!

Continue reading ‘Indonesia Mengecewakan: Sadar Napa?’


Ini udah lama jadi pembicaraan antara para designer dan developer. Kalau lagi buat website untuk klien, enaknya langsung dicolok CMS (ala WordPress atau salah satu teman-temannya) atau tawarin mentah sebagai HTML/CSS.

Pilihan kita:

  • HTML mentah berarti hanya menawarkan design dan tempat mengisi teksnya. Biasanya si designer akan langsung meminta teks dari klien saat website dibuat, diisi ke dalam file HTML, dan selamanya nggak berubah lagi.
  • CMS memungkinkan si pengguna mengisi kontennya sendiri. CMS ada macam-acam, antara lain WordPress (yang lebih tertuju pada blogging) atau sistem serupa seperti MediaWiki untuk wiki.

Yang jelas, trend “Web 2.0” mendorong developer sekarang untuk buat website yang fleksibel; dengan kata lain, memanfaatkan CMS. Jaman sekarang, jarang ada website yang berbentuk baku dan nggak memanfaatkan suatu sistem agar si klien dapat memegang kendali pribadi atas websitenya. Lagipula, kenapa tidak?

Dalam suatu website, si klien wajib merasa memiliki websitenya. Jangan sampai ia merasa website perusahaannya bukan tanggung jawab pribadinya dan dilimpahkan begitu saja pada si developer (yang biasanya juga menelantarkannya). Walhasil semuanya cuek ama si website dan iapun tenggelam dalam kebinasaan. Hayoloh.

Jadi kenapa developer masih ada yang memilih menawarkan website yang dipaksa pure HTML/CSS tanpa CMS? Jika kita cari-cari sejenak di google tentang jasa pembuatan website dalam negeri, banyak yang tidak hanya membatasi fitur yang harusnya selalu ada (kontak, dst), mereka bahkan membatasi jumlah halaman, jumlah produk, atau jumlah teks. Alasannya?

Duit.

Dunia web development dalam negeri sekarang dimonopoli oleh satu hal yang disebut duit itu. Uang, uang dan uang. Ini bisa kita sambungkan ke pertanyaan kenapa Telkom Speedy menawarkan paket internet berbeda dengan batasan bandwidth? Teknisnya, Telkom sendiri tidak begitu kerugian bila kita memakai bandwidth dalam jumlah besar (asal nggak kelewatan).  Alasannya, ya, uang.

Saya suka menyebut perusahaan layanan di Indonesia sebagai “pelit”. Bukan karena harganya yang keji (walaupun sebagian memang begitu) tapi karena hal yang harusnya tidak mahal dibuat mahal. Nambah halaman/data sebuah website itu harusnya gratis, kecuali keterbatasan ukuran (itupun harusnya nggak pelit-pelit banget). Nambah foto, sistem halaman yang fleksibel, jumlah produk, fitur search, formulir kontak; itu semua harusnya gratis dan nggak dibatas-batasi.

Pakailah CMS. Developer, berhenti memaksa batasan aneh-aneh pada klien anda dan didiklah klien anda agar mengerti tentang keterbatasan suatu website. Kalau bisa, tentukan seseorang yang memiliki tugas khusus mengurus isi website itu dan didiklah orang itu.

Tentunya ini asumsi bahwa semua developer bisa menulis untuk dunia web…

Artikel selanjutnya tentang menulis untuk web.


Hiduppp!!!

11Jun09

Jadi setelah sekian lama hilang – untuk “belajar” – saya kini kembali ke dunia blogging raya. Telah habis kesabaran saya dalam sistem pendidikan kita, jadi sekarang saya mulai menjurus langsung ke arah pekerjaan. Semoga tulisan berikut saya bisa lebih organik dan to-the-point dalam bidang yang saya tekuni (web development, yay!)

Sekarang tepatnya saya lagi terjebak di jakarta. Nggak ada kerjaan lain jadi mendingan saya menulis saja, iya nggak?


Katanya sekarang kalau nggak ikut memilih, hukumnya berat. Tapi kalau cuma diancam, ya nanti palingan asal pilih saja. Karena saya nggak yakin kalau saya peduli dengan hasil suatu pemilu.

Janji-janji bodoh diungkapkan di pemilu.

BBM Turun?

Jangan! Buatlah BBM mahal. Manusia selama dua ratus tahun terakhir dimanjakan dengan minyak murah. Kita nggak punya waktu banyak lagi. Semakin manja Indonesia pada minyak (yang sendirinya sebagai produsen minyak tapi nggak bisa mengendalikannya), semakin cepat kita akan roboh ketika BBM melangka. Toh ada alternatif. Banyak pula alternatifnya. Dan masing-masing lebih logis daripada sebelumnya. Ethanol? Surya? Hidrogen? Sepantasnya kita investasi dalam alternatif sebelum kita terjebak sendiri.

Maka saya tidak memilih kanidat yang mengumbar janji akan menurunkan harga BBM.

Angkutan Umum Lebih Murah?

Lagi-lagi pikiran jangka pendek. Masalah dengan angkutan umum kita bukan harga, melainkan kualitas. Apa politikus-politikus itu nggak melihat di negara lain, bahwa memang public transport itu tujuannya bukan semurah-murahnya, melainkan yang bisa diandalkan, nyaman, aman, dan teratur. Saya rasa keempat faktor itu gagal dicapai oleh angkutan umum di Indonesia saat ini. Biarlah harga angkutan mahal, atau kalau perlu buatlah lebih mahal, dan perbaiki sistem yang kacau, misalnya angkot. Lebih parah lagi, masyarakat yang dimanjakan oleh angkutan murah dan tidak memiliki aturan menyebabkan budaya ini terbawa sehingga tidak peduli dengan aturan – tampak pada orang Indonesia di negeri lain.

Kalau saya presiden, saya akan memberhentikan seluruh jenis angkutan seperti angkot dan bis yang kacau, lalu menggantinya dengan sistem yang terjadwal dan bisa diandalkan. Transjakarta adalah contoh yang baik.

Harga Sembako Turun?

Bah. Ada-ada saja. Janji “sembako turun” ini hanya pada harga pemerintah. Lagi lagi hanya harga, bukan sistemnya sendiri. Apa arti harga kalau di mana-mana persawahan rusak dan dicuekin, hutan dibabat illegal, industri kayu profesional melemah, dan pengalihan fungsi hutan terjadi di mana-mana? Masyarakat miskin, dan itu bukan berarti harga perlu diturunkan, tapi berarti kemiskinan yang perlu dihapuskan! Kita punya potensi. Oh, tentu ada, banyak yang menyadarinya. Lalu kenapa hanya menjanjikan harga sembako turun, tapi kemiskinan itu sendiri tidak diperbaiki? Perbaiki persawahan! Perkuat industri lokal, dan perbaiki birokrasi sehingga perusahaan-perusahaan yang baik dapat menangani hutan kita. Bawa masuk ahli untuk menangani kondisi pangan. Bantu petani. Jangan menurunkan harga bagi mereka yang miskin, tapi angkatlah mereka sehingga harga sekarang tidak menjadi masalah lagi.

Harga hanya illusi dan angka.

Pendidikan Murah?

Sudah terlihat bahwa di suatu SD yang gratis, murid justru sengaja tidak masuk atau tidak naik kelas. Kan gratis. Lebih parah lagi, orangtuanya mendukung, atas pemikiran yang sama. Terlihat jelas sekali bahwa masalahnya bukan harga, tapi pemahaman orang Indonesia bahwa pendidikan itu penting. Apa arti harga yang rendah kalau mereka nggak niat bersekolah? Biarlah, saya juga dapat sebagian besar ilmu dari TV international, internet, dan buku. Dan saya rasa saya nggak sendiri. Jadi mudahkan sambungan TV international, permurah Internet, dan sediakan perpustakaan umum. Begitu banyak potensi, tapi yang dimurahkan di pihak yang salah. Huh.

Murah membuat seseorang dipilih jadi presiden, tapi tidak berarti bagi Indonesia.

Karena Politikus Itu Fast Food. Enak, Menarik, tapi…

Ya. Mereka mencari jalan cepat dan mudah, menyuguhkan pilihan “gampang”. Memang teknik yang sesuai. Anak kecil minta permen? Kasih permen. Buat apa susah-susah menjelaskan tentang kesehatan gigi, kalau bisa langsung kasih dan dia diam. Begitu pula di sini. Politikus memberi kita tawaran menggiurkan, yang seakan-akan instan memudahkan hidup kita, padahal sebenarnya ia tidak memperbaiki apa-apa. Hanya harga, uang, dan hal-hal berat yang sebenarnya bukan masalah itu sendiri yang ditangani. Kita mau Indonesia maju, bukan hidup jadi serba enak! Tentu akan ada pengorbanan – investasi, kerja keras, sedikit memaksa kita mengubah gaya hidup – tapi kita akan maju!


Kok Ilang?

07Jan09

Tampaknya saya lenyap 3 bulan – agak lama juga. Maafkan saya. 3 bulan ini isinya hiruk pikuk kuliah pertama kali, yang tentunya diwarnai oleh berbagai macam kehancuran dan kekacauan…

On the bright side, I now have internet access at home!! Karena itu, diharapkan post akan mulai mengalir lancar lagi. Tanpa basa basi, pemirsa, kita mulai lagi~


Diterbitkan setiap hari Rabu. Arc pertama di rangkaian artikel Perancangan Website.

Ep. 1: WYSIWYG

Selamat datang di seri “7 Kesalahan Terbesar Seorang Perancang Website” oleh saya, Steax. Kita akan memulai perjalanan kita mencaci maki para perancang lainnya dengan menyalahkan program-program kesayangan banyak perancang: program yang biasa disebut “WYSIWYG”.

Whisiwig – panggilang, err, akrab, untuk tipe program ini, merupakan salah satu hambatan terbesar dalam menuju dunia internet yang optimal. Kepanjangannya adalah What You See Is What You Get – apa yang anda lihat, itu yang akan dibuat. Jaman dahulu kala, yang paling bertanggung jawab atas hal ini adalah sebuah buronan yang disebut Frontpage, dari si gendut Microsoft, yang sampai sekarang pun masih diajarkan secara luas (seberapapun menyedihkan itu). Tak lama kemudian, datang raksasa baru yang disebut Macromedia dengan program Dreamweaver. Anda kenal, kan? Mungkin sampai sekarang anda masih ada yang mengunakan Dreamweaver. Tidak heran; Dreamweaver ribuan kali lebih efisien daripada Frontpage.

Masalahnya, tampilan dasar dari Dreamweaver, yang menampilkan halaman yang sedang anda rancang secara visual dan mencontohkan layout dan tipografi anda secara langsung, merupakan contoh WYSIWYG. Jika anda masih belum menangkap maksudnya: WYSIWYG adalah gaya perancangan yang bersifat visual, seperti layaknya anda menulis dokumen di Word. Padahal, website seharusnya dibuat dengan HTML, yang murni bersifat teks.

Begini. Dulu, waktu internet baru diciptakan, tidak ada yang mengira bahwa kita akan mengembangkannya sampai seperti sekarang. Semua orang mengira kalau internet akan tetap lambat, dan halaman-halaman yang kita lihat perlu sebesar-besarnya berisi teks untuk dibaca. Sekarang tentunya sudah berubah, dan perancang menginginkan desain yang lebih kompleks dan menarik. Hal ini masih bisa dilakukan dalam HTML, tapi karena perancang malas mencari-cari teknik dan metode yang berputar-putar, diciptakanlah WYSIWYG. Anda berkata, “bagus dong. Masalahnya apa?”

WYSIWYG itu berlebih dan memaksa! Mereka itu robot yang menerima perintah majikannya dan memaksakan melaksanakannya – seberapa mahal atau berat hasilnya. Tentunya si perancang tak pernah menyadari seberapa bagus (atau buruk!) pekerjaan si robot sampai terjadi sesuatu yang menakutkan. Sebagai robot, mereka tidak bisa improvisasi atau berkembang seperti kita. Mereka juga memiliki keterbatasan dalam kemampuan mengerti perintah yang diberikan.

Beberapa Kesalahan Terbesar WYSIWYG

Salah satu hal yang sering disebut adalah tidak efisiennya layout yang dibuat dalam WYSIWYG. Sebagian besar dari mereka akan menggunakan “tabel” untuk membuat layout. Tabel secara HTML. Ini disebabkan karena tabel lebih fleksibel di hasil akhir. Tapi jika anda melihat HTML di balik layarnya – hancur! Banyak sampah-sampah berserakan dan tidak teratur. Program tidak dapat berpikir logis layaknya manusia, dan pekerjaannya pun “asal jadi” saja. Ketika anda mengubah desain anda sedikit, maka kadang-kadang program akan menyisakan tag-tag HTML kosong atau bekas-bekas lainnya yang tidak diperlukan. Sangat tidak efektif, apalagi bila dibandingkan dengan hasil yang dapat dibuat seorang perancang manusia dengan bantuan CSS. (Kebetulan, CSS mudah dipahami manusia yang mengerti cara kerjanya dari HTML. Tapi bagi si robot yang harus berkerja dari perintah visual – bingung dia.) Saya akan membahas lebih banyak tentang sia-sianya <table> di episode berikutnya.

Ngomong-ngomong soal CSS, WYSIWYG juga sering bersalah dalam membuat sampah ketika berusaha memberi pengertian visual pada teks. Misalnya mau membuat teks yang tebal; WYSIWYG tidak mengerti apa yang mau anda lakukan, jadi dia dengan mudah menambah tag-tag baru dan memaksakan agar teks itu dicetak tebal. Dalam proses ini pun banyak hal-hal ditambah-tambah dan berserakan. CSS dan seorang perancang yang kompeten dapat dengan jauh lebih sederhana memberi tag dan CSS yang sesuai. Hal ini disebut HTML yang semantis – saya akan sering menyebutkannya dalam seri ini.

Dreamweaver tidak sepenuhnya bersalah. Mereka memiliki code view yang memberikan tampilan HTML yang baik, tidak seperti design view yang sebenarnya sekedar WYSIWYG yang keji. Dreamweaver cukup baik dalam code view tersebut; jauh-jauhlah dari design view! Frontpage sudah saatnya dibuang. Jika anda melihat banyak software untuk perancangan web modern, maka anda akan menyadari bahwa sebagian besar merupakan editor HTML, CSS, dan pendampingnya. WYSIWYG akan segera mati – akhirnya. Di Indonesia, banyak perancang yang belum siap untuk berpindah. Saya akan katakan ini sekarang: jauh-jauh dari WYSIWYG. Adopsi HTML!

Masalah Lainnya

Ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan oleh perancang namun dilewatkan oleh program WYSIWYG. Salah satunya adalah menyesuaikan untuk beragam browser dan alat baca website. Seringkali, rancangan indah yang telah dibuat program hanya bisa bekerja dengan benar pada kondisi tertentu. Jika ada fitur di browser yang dimatikan atau disalahgunakan, maka desain pun pecah. Kadang-kadang bahkan desain itu hanya bekerja dengan benar di satu browser, dan rusak di browser lainnya. Jika pengguna mematikan tampilan gambar, misalnya, maka yang akan ditunjukkan adalah “alt text”, yang dipasang dengan atribut “alt” di tag <img>. Ada kebiasaan di pengguna WYSIWYG untuk munafik dan lupa untuk beradaptasi, sehingga terlalu percaya pada programnya dan lupa menguji desainnya seperti seharusnya.

Kadang-kadang si program akan cukup berbaik hati untuk menyediakan fitur-fitur untuk menyelesaikan masalah ini, namun karena gaya WYSIWYG lebih berfokus pada penampilan dan pengguna pun tidak memperhatikan hal-hal tersebut, fitur ini terbengkalai. Dreamweaver, misalnya, memiliki fitur untuk memberi teks alternatif pada gambar, tapi ini jarang digunakan.

Hal lainnya adalah hilangnya kendali tingkat kecil. Ada fungsi-fungsi tingkat lanjut untuk integrasi dengan aplikasi lainnya (misalnya PHP atau Javascript) yang interaksinya langsung pada HTML. Penggunaan program WYSIWYG seringkali akan menutup-nutupi apa yang terjadi di HTML sehingga sulit mengintegrasi seperti ini. Biasanya, ketika anda mulai berkutat dengan bahasa server-side (ASP, PHP, dkk) atau Javascript, WYSIWYG akan menjadi keterbatasan besar bagi anda.

Terkahir, tapi mungkin terparah, adalah WYSIWYG membodohi penggunanya. Program akan melakukan semua kerja keras, dan pengguna tidak pernah merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sering dengan senang hati menambah ribuan gambar ke satu halaman, atau memberi animasi gila-gilaan, sekedar karena si program membuatnya gampang. Untuk menjadi perancang profesional, ini menjadi masalah besar. Percayalah, WYSIWYG memiliki keterbatasan, dan anda akan menemukan suatu titik di mana program itu lebih menghambat daripada membantu.

Jadi Seharusnya?

HTML dan CSS merupakan bahasa yang sederhana dan diterima secara global. Sebagian besar perancang professional menggunakan HTML dan CSS dalam prosesnya. WYSIWYG telah ditinggalkan dalam kebanyakan tim desain (karena berbagai alasan), Namur terkadang masih ditemui dalam pendidikan formal.

Untuk editor, saya menyarankan Notepad++, yang berfungsi sebagai editor teks sehingga dapat bekerja sebagai editor HTML maupun CSS dengan fitur-fitur seperti syntax highlighting, yang dapat membantu anda menghindari kesalahan kecil seperti lupa menutup tag atau salah ketik.

Saya pribadi belajar dari website bernama HTML Dog, yang mungkin anda temukan berguna untuk membangun dasar-dasar HTML dan CSS. Kemudian, berkelilinglah ke website yang berisi artikel seperti A List Apart, yang dapat membantu anda beradaptasi dari WYSIWYG ke tulisan tangan, jika diperlukan.

Catatan Terakhir

Penggunaan WYSIWYG merupakan hal yang hampir telah ditinggalkan seluruhnya secara international. Saya tetap mencantumkan post ini, karena di Indonesia (terutama di pendidikan formal) penggunaan WYSIWYG merupakan hal yang masih umum. Jangan terbawa ya.

Glossary

  • HTML: Hypertext Markup Language. Bahasa dasar untuk menulis kode halaman website.
  • HTML Semantis: Gaya penulisan HTML yang memisahkan konten dengan penampilan. Akan dijelaskan lebih lanjut di episode selanjutnya.
  • CSS: Cascading Style Sheet. Bahasa yang ditujukan untuk mengatur penampilan halaman.

Terkait


Berikut adalah analisa dari penyebab kebakaran di SMA Labschool Jakarta, dan seluk beluk produk yang menjadi asal muasal ledakan.

Disclaimer: Saya akan berusaha memberikan pandangan yang senetral mugngkin, tapi tentunya tidak akan bisa netral sempurna karena kekecewaan saya terhadap kejadian ini.

Produk: “Explo Protect” / “Xplo Protect”
Produsen: K-Link

Harga: Rp. 1.176,000
Fungsi: “Melindungi Mobil Dari Meledak”
Meragukan: Sekali

Kepada pembaca: Saya minta agar diingat bahwa artikel ini merupakan sekedar pemikiran kritis mengenai kejadian kebakaran di Labschool. Ia didasari konsep fisika yang sudah pasti, fakta dari sejarah yang ada, dan pemikiran logis belaka. Saya tidak bermaksud menuduh atau memfitnah, melainkan mengungkapkan claim dari produsen produk ini dan menganalisanya dengan cara yang kritis. Bacalah sebelum menyalahkan saya. Mari buat bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa pemikir.🙂

Continue reading ‘Penyebab Labschool Kebakaran’


Bagi teman-teman dan saudara-saudara yang ingin memberi bantuan dana langsung kepada labschool, berikut adalah informasi rekeningnya:

Bank Mandiri cabang Pegambiran Rawamangun
an. : BPS Labschool YP-UNJ
No rek: 006 – 000 597 3684

Update Tanggal 31 Juli pukul 21.00: Tentang produk yang menyebabkan kebakaran

Hari ini, tanggal 30 Juli 2008, SMA/SMP Labschool dan SD di belakangnya mengalami kebakaran hebat. Lantai 3 dari banyak gedung mengalami kerusakan 80-90%, dengan hampir lenyapnya seluruh struktur.

Untung sekali bahwa tanggal ini adalah tanggal merah dan murid tidak masuk sekolah, meskipun sorenya banyak murid yang datang untuk mempertanyakan tempat pengungsian mereka untuk sekolah selanjutnya. Sejauh ini belum diketahui mengenai korban, tapi cukup diyakini bahwa tidak ada korban manusia sama sekali.

Continue reading ‘Labschool Kebakaran; Laporan & Foto’




Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.