Mobil tabrakan, kapal tenggelam, pesawat jatuh… Jadi?

27Okt07

Bolehkan saya mengutip sebuah pembicaraan dengan seorang supir becak di Yogyakarta, dalam kunjungan study tour sekolah saya, sekitar 6 bulan yang lalu.

Alkisah, saya besama teman-teman sedang bersenang-senang dengan belanjaan, di pinggiran jalan. Kami berencana untuk kembali ke bus (kemudian ke hotel). Nah…

Saya: Eh, udah yuk, balik ke bus sekarang…
Teman: Yasuda. Ke sana kan?
Kami berjalan ke arah bus, sambil membahas tentang perjalanan pulang ke hotel (berhubung kita belum tentu naik bus, kalau busnya masih lama berangkat)…
Saya: Kata guru sih, bus dari sini jam sembilan.
Teman: Tapi kan masih sejam lagi?
Teman (lain): Kalau jalan kaki aja gimana?
Saya: Bisa penyok ni paru-paru jalan sgitu jauh.
Teman: Jadi kita nunggu busnya?
Tiba-tiba seorang abang-abang becak datang.
Abang: Adek-adek, mau saya antar ke mana?
Saya: Ga usah, bang, makasih. Kita ada bis kok.
Abang: Bahaya dek naik bus, nanti ngeguling gimana?
Teman: Ya ntar kita turun terus naik mobil.
Abang: Kalau mobil nanti tabrakan.
Saya: Ya naik bus lagi.
Abang: Adek-adek pada belum tahu aja. Naik mobil tabrakan. Naik kapal nanti tenggelam. Naik pesawat nanti jatuh. Naik…
Saya: Jalan kaki dilindes. (jalan agak cepat)
Abang: (teriak) Naik becak paling aman dek!
Dan saya kabur bersama teman-teman.

Ok, itu kejadian emang berdampak aga aneh bagi saya. Dipikir-pikir, ya jelas nggak ada “jalan aman”. Mau naik apa aja pasti ada sesuatu yang bisa terjadi (kecuali masuk ke dalam tong besi, iket diri baik-baik, minta digelindingkan sama teman…). Jadi sebenarnya apa yang paling aman?

Hal ini sampai terikut dalam pembicaraan tentang mudik paling aman. Banyak tetangga saya yang pulang kampung, dan banyak sekali yang berpikir “jangan naik pesawat. Belakangan banyak pesawat jatuh”. Dan kalau saya pertanyakan kebenaran pendapat itu, biasanya jawaban mereka sekedar “lihat beberapa waktu terakhir ini, sudah banyak banget kecelakaan pesawat”.

Hmm. Banget. Saya mempertanyakan kata itu. Boleh deh 2 pesawat jatoh per tahun. Tapi ingat, tiap hari ada seratus lebih pesawat di seluruh Indonesia terbang dan kembali lagi dengan selamat. Tingkat kematiannya kecil. Sekali.

Tapi pesawat tetap ditakuti banyak orang. Kapal laut juga. Mobil sudah tidak dipertanyakan deh bahayanya (yang depan mata aja udah banyak). Padahal yang perlu lebih dipikirkan bukan untuk lari dari bahaya itu. Tapi gimana cara mengatasinya. Jangan lari dari sesuatu karena itu bisa bahaya – segala sesuatu bisa berbahaya. Kecuali mau mengurung diri di rumah dengan dinding dari kapas, dan cadangan makanan dan obat seribu tahun.

Coba deh sedikit berani. Sesuatu berbahaya belum tentu berarti harus dihindai 100%.

Tapi mungkin juga naik becak paling aman.

Nanti jalan-jalan ke lombok naik becak aja deh.



7 Responses to “Mobil tabrakan, kapal tenggelam, pesawat jatuh… Jadi?”

  1. Namanya juga promosi becak, yo wis lah.πŸ˜†

    Intinya semua yang ada di dunia ini ya beresiko, semuanya kembali kepada manusia itu sendiri.πŸ™„

  2. Hmm, kalau promosi becak untuk menggantikan pesawat sama kapal… Saya sih agak ragu ya.

    Mungkin saja kalau becak dikasih periskop, beberapa mesin jet… Bisa lah. =P

  3. *pertama liat ni blog. Kirain salah masuk ke blognya si bobot… (udah theme sama, headernya sama2 ada bulannya lagi…)

    Itu pas dimana?πŸ˜• Abis dari gua ya?
    Studi tur penuh kenangan, apalagi bagian tangga surga/neraka itu.πŸ˜†

  4. 4 hoek

    ah ya, sebuah fengamatan yang menarik sangadh soal transfortasi di endonesa yah kawand? ahem…tafi yang jelas, lebih enak dirumah, afalagi diwarned, ndak ferlu naek afa-afa uda bisa fergi kemana-mana. mhuahuahuauha
    ah ya, salam kenal yah kawand!

  5. @Lemon: Haha, abisnya bingung pilih template. Kayaknya post brikutnya lebih mengulas studi tour deh… Kejadian itu pas pada belanja.

    @hoek: Poin yang bagus.πŸ˜› Salam knal jugaa… Dan setelah sedikit riset tadi malam, saya nemu fakta bagus nih: Tingkat keselamatan rata-rata penerbangan di Indonesia sedikit lebih bagus dari negara afrika rata-rata.

    DI bangun lagi knapa…😦

  6. 6 its me dhe

    TaKdiR gaK kaN keMana

  7. Dan sepatutnya kita bersyukur sekali takdir tidak ke mana-mana.πŸ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: