Sekolah: Demi Nilai atau Ilmu?

09Des07

backpack.jpg

Saya tanya: anda sekolah / dulu, ketika anda sekolah, mana yang lebih berarti bagi anda: nilai, atau ilmu yang didapatkan?

Inilah hal-hal yang menjadi pikiran murid-murid sekolah secara rutin setiap harinya:

  • Tugas belum selesai
  • Lelah di sekolah, jadi ingin cepat pulang
  • Menanti jam istirahat tiba
  • Berharap guru tidak masuk
  • Mencatat agar tidak dimarahi
  • Ingin sekolah diliburkan
  • Dan banyak lagi.

Dari semua yang dilakukan di sekolah, ada 2 hal yang utama diharapkan diterima oleh murid: nilai dan ilmu.

Keuntungan Mendapat Nilai Bagus:

  • Dipuji guru
  • Diberi hadiah / selamat oleh orang tua
  • Dikagumi teman-teman
  • Mendapat hak pamer
  • Dikenal banyak orang di sekolah
  • Banyak mengikuti lomba
  • Memperoleh kesempatan beasiswa
  • Dibanggakan sekolah
  • Dicari oleh teman bila sedang kesulitan
  • Daftar ini masih jauh dari lengkap.

Sedangkan, bila nilai buruk:

  • Dianggap bodoh
  • Disuruh ikut les / tambahan pelajaran
  • Malu kepada teman
  • Dimarahi guru
  • Dituduh pemalas
  • Dikejar-kejar remedial
  • Dikurang waktu santainya
  • Dipaksa belajar

Sedangkan untuk ilmu, kita tahu jelas fungsinya: untuk memperoleh suatu keterampilan, yang bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan atau keahlian di masa depan. Tapi ilmu diukur dengan nilai, dan representasi nilau untuk ilmu tidak selalu tepat.

Masalah Dengan Nilai:

Mari teliti satu-satu kerugian sistem nilai, dan dampaknya.

  • Dipuji guru: Tidak membawa keuntungan. Mungkin jadi besar kepala.
  • Diberi hadiah / selamat oleh orang tua: Hadiah/selamat bersifat menghibur, tidak mendukung.
  • Dikagumi teman-teman: Kalau nilai jatuh, kagum ini hilang.
  • Mendapat hak pamer: Hanya selama nilai bisa dipertahankan.
  • Dikenal banyak orang di sekolah: Lagi, hanya bersifat sementara.
  • Banyak mengikuti lomba: Dapat mengurangi efektivitas sekolah.
  • Memperoleh kesempatan beasiswa: Sibuk dengan beasiswa itu.
  • Dibanggakan sekolah: Kalau melakukan kesalahan, sekolah malu.
  • Dicari oleh teman bila sedang kesulitan: Hanya sementara.

Nilai buruk:

  • Dianggap bodoh: Hanya mengurangi semangat belajar, tidak menambah.
  • Disuruh ikut les / tambahan pelajaran: Nggak tahu ya, itu buat orang lelah?
  • Malu kepada teman: Teman-teman juga akan mengerti kok.
  • Dimarahi guru: Menjauhkan murid dari guru.
  • Dituduh pemalas: Merasa dirinya malas dan benar-benar menjadi malas.
  • Dikejar-kejar remedial: Dituduh belum mengerti, padahal belum tentu.
  • Dikurang waktu santainya: Makin menambah stress.
  • Dipaksa belajar: Dan stressnya kian bertumpuk…

Jadi, apakah adil untuk menilai ilmu seseorang hanya dari nilai yang ia dapatkan di sekolah? Saya rasanya tidak perlu menyebut lagi nama orang-orang luar biasa yang memiliki ilmu, namun nilai akademisnya hancur – anda sudah tahu tentang Einstein yang tidak menyelsaikan SMU, atau tentang Wright bersaudara yang melaukan hal yang sama. Tidak juga Simon Cowel, Van Gogh atau Shakespeare.

Albert Einstein pernah berkata: “Imagination is more important than knowledge.”

Bahkan, tiap tahunnya, sekolah tidak menuntut ilmu lebih, melainkan nilai lebih – tampak dari dinaikannya nilai minimum setiap tahunnya. Agak gila, bahwa yang lebih penting adalah nilai bagus, tanpa melakukan perubahan pada kepemilikan ilmu. Untuk mengejar nilai minimal, yang dilakukan adalah mengintensifkan latihan, sistem hafalan, dan pelajaran tambahan.

Satu hal terakhir. Ingatkah anda cara guru akan mengajarkan cara cepat, atau berdalih bahwa “kamu nggak perlu mengerti, yang penting hafal”? Tidakkah ini murni demi nilai dan tidak demi ilmu? Guru tampak tidak peduli apakah kita mengerti apa yang kita pelajari. Bahkan ada guru saya yang bilang, “yang penting kamu sekarang bisa, nanti setelah lulus kamu lupa nggak apa-apa”. Konyol.

Nilai Bukan Segalanya.

Sebagai penutup, saya undang anda meningat beberapa hal yang anda kenang di masa sekolah. Hal-hal yang hingga saat ini anda ingat dan nikmati, dan syukuri. Daftarkan saja – sahabat, kebersamaan, main sama-sama, kekeluargaan, pengalaman berteman, seterusnya.

Adakah “nilai” termasuk di dalam daftar anda?



26 Responses to “Sekolah: Demi Nilai atau Ilmu?”

  1. Iya sih, bener juga. Kayaknya yang diutamain tuh nilai mulu (paling keliatan pas UN). Guru tuh ikut2an ngejar nilai, makanya pake segala cara. Saya ingat sewaktu guru semasa SMP bilang : “harus pake segala cara”. Mengecewakan, ngga mendidik.

    Tampaknya bangsa kita masih menganggap angka itu penting.

  2. Iya, sepertinya memang begitu… Dianggap segalanya bisa diukur dengan angka. -_- Saya melakukan sedikit update di artikel saya itu, hehe.

    Mungkin ada hubungannya dengan sistem penjajahan dulu, di mana pendidikan dianggap berharga sekali, dan sekarang tetap dianggap demikian tanpa adanya perubahan berarti pada sistem.

  3. Bahkan Charles Darwin juga latar pendidikannya bermasalah.πŸ˜•
    Menilai orang berdasarkan nilai (? kok aneh ya, hehe) itu menurut saya memang ngga bagus. Yang nilainya bagus belum tentu pintar, yang nilainya jelek belum tentu bodoh.

    Mungkin banyak orang jadi lebih mengincar nilai karena: untuk jadi orang sukses, nilainya harus bagus. Mau dapat kerja mudah, harus dari PTN bagus. Mau masuk PTN, nilai harus bagus. Jadi mungkin uang datang dari nilai, bukan dari ilmu.πŸ˜›

    …dan kayaknya pencarian nilai ini juga timbul gara-gara ada fallacy yang bernuansa ad hominem.
    Seperti…

    Pelajar: Menurut saya, Nazi Jerman itu tidak sepenuhnya buruk. Alasannya adalah blablabla…
    Dosen FISIP UI:Tahu apa kamu, ha? Nazi itu jelek — sampah. Argumenmu itu lemah, anak SMA tahu apa sih?

    πŸ˜•

    *note: bukan pengalaman pribadiπŸ˜› *

  4. Makanya susah cari orang cerdas.😈

    Aku inget banget pas kelas 3 SMP dikejar-kejar ama guru Bahasa Indonesia (yang sinisnya nggak ketulungan) cuma gara-gara aku nggak ada nilai tugasnya, padahal beliau tahu saya ini sering nggak masuk karena memang sakit. Setelah saya (dengan super-susah-payah, termasuk pas file-nya ilang karena virus) ngerjain tugas, apa katanya? Karena nggak konfirmasi, ngga bakal dinilai. Aku sebel banget, tapi karena susah argumen sama guru, ya udah ikutin perintah.

    Kita kelamaan dicuci otak ama penjajah, makanya apa-apa tuh pake nilai yang eksak jadinya, angka-angkaan…

  5. @Xaliber: Satu fenomena lagi – orang lebih mengincar uang, daripada ilmu. Nah, ketemu deh inspirasi buat post selanjutnya. Hehehe. Saya nggak akan pernah melupakan saat saya ditolak mentah-mentah argumennya mengenai desain web dan Dreamweaver, melawan segerombolan “ahli” IT… *sigh*

    @Cynanthia: Kalau saya nggak pernah mau kalah argumen sama guru. Sampai di titik sang guru berkata, “kamu hormat dong sama yang lebih tua”, biasanya saya baru mulai mengeluarkan argumen tentang hormat β‰  patuh dan menuruti setiap perkataan. Hehehe.

    Bukan hanya itu, tapi penjajah juga yang memberikan inspirasi kepada orang Indonesia bahwa pekerjaan yang “terhormat” hanya dokter, insinyur, dan businessman kaya – sisanya dianggap nggak penting…

  6. SIALAN!!! DI SAAT DULU GUA SIBUK NGAMUK-NGAMUK SOAL BEGINIAN GUA JUSTRU DIBILANG ORANG GILA. Tapi biarlah, Edison juga dulu dibilang anak idiot…

    Dapat niali jelek? Malah bangga tuh saya, apalagi kalo di pelajaran eksak.

    @Cynanthia: Nasib serupa, kelas 3 SMP juga, pelajaran Bahasaku juga, ga ada niali tugas juag. (akhirnya ga saya buat tugasnya).

    @Xaliber: ini INDONESIA!

    Sekolah ga menjamin kita sukses, tapi kenapa orang berkata sekolah menjamin kita sukses. Padahal definisi sukses masih belum jelas. Juga nilai sendiri masih banyak persepsinya.

  7. “Harusnya sekolah itu bukan buat cari kerja, tapi cari ilmu….”
    — Salah satu dosen di International Relations Department

    Tapi kenyataannya…?πŸ™„

    Faktanya, makin berkembang zaman, makin berubah pula standar penerimaan kerja. Dinilai dari IP lah, titel lah, almamater lah, apa lah…πŸ˜†
    Yang namanya kerja nggak gambling-gambling amat (nggak usaha sendiri), zaman sekarang banyak menuntut 3 komponen di atas. Misalnya syarat buat ke DepLu, IP minimal segini… (wuih, apa saya bakal sangup? wakakakaaa….)

  8. 8 mas agus

    nilai memang bukan segalanya, tapi nilai merupakan pintu untuk membuka kesempatan dalam memperjuangkan masa depan.

    but the above statement is arguable….πŸ˜€

  9. @steax:
    Karena di sini apa-apa masih pakai uangπŸ‘Ώ .

    @Lemon:πŸ˜†
    Biar nilai jelek yang penting bisa tanggung jawab selama ujian. Saya merasa berdosa kalau nyontek, saya sudah belajar semaksimal mungkin, ya sudah, serahkan saja sisanya kepada TuhanπŸ™‚

    Satu kelemahan orang Indonesia adalah mereka kerap melihat hanya dari satu sisi, tapi tidak melihat dari sisi lain. Makanya kejadian seperti ada yang bilang “ganyang Malaysia” muncul, atau dalam topik ini, hanya melihat nilai.

    Makanya saya punya reputasi agak buruk sewaktu kelas 3 SMP, karena nilai rapor saya masuk terkecil (pas-pasan).

  10. @Lemon: Sekarang malah pakai acara “karya tulis” (semacam buku, tapi segalanya diatur-atur, harus jelas, ejaan salah dicaci maki, dsb). Hahaha, lagi waktu ujian jadi saya manfaatkan aja deh buat melepas stress. Ikutan dong.πŸ˜›

    @Roze: Iya, sepertinya lebih dihargai nilai daripada ilmu. Segalanya diukur dengan angka. Kasihan sebenarnya. Berapa banyak orang-orang yang berpotensi menjadi seniman atau penulis, namun gagal lulus karena payah matematikanya? Memang gila…Tapi banyak orang juga yang beranggapan bahwa alur hidup adalah: belajar > cari uang > bekerja > dapat ilmu/mengharumkan nama bangsa dsb. Hehehe.

    @ mas agus: Ini bukan post terakhir dalam satu rentetan pelampiasan stress saya, hahaha. Hmm, nilai memang membuka kesempatan, tapi ilmu yang akan menggunakan kesempatan itu.πŸ˜€

    @Cynanthia: Iya… Tapi mau bagaimana lagi. Dulu kan bukan uang, tapi jasa… Yang sebenarnya lebih direct, tapi tidak sepraktis uang (katanya). Saya sekarang pas-pasan sekali malah, nilainya…

  11. 11 its me dhe

    Hmmmm TerGaNtuNg iNdiVidUna kaLeeee
    yaNg daH mEmbUdaYa Tuh Demi niLai buKan iLmu
    taPi kaLo taHu iTu ‘nDak baGus Coba di RubaH DArI DIrI sENDIrI
    BIsA kAN???

  12. Kita sedang mencoba itu sekarang.:mrgreen: Nilai ujian saya ini tidaklah indah sama sekali. (atau, sebenarnya, cukup indah. Pasti kartu rapor saya banyak stabilo merah-merahnya.) Tapi bagi saya, yang penting saya mengerti apa yang perlu saya ketahui, tanpa memaksa diri saya untuk stress gara-gara sesuatu yang tidak akan saya perlukan.

  13. 13 its me Dhe

    Hooo…Hooooo

    yang penting saya mengerti apa yang perlu saya ketahui, tanpa memaksa diri saya untuk stress gara-gara sesuatu yang tidak akan saya perlukan

    KoMentar den9an kaLimat itu

    jaDi kaLo 9ak perLu 9ak Usah tahu
    So buaT apa ada iLmu, pen9Etahuan, TeknoLogi dan Seni

    men9Etahui se9aLana buKanLah Dosa
    adaLah kErja kEras unTuk beLajar memPeLajarina
    dan buKanLah paKsaan unTuk meNerimana
    kaRena BELAJAR UNTUK TAHU DAN TAHU UNTUK BELAJAR menjadi pemBedana

  14. Saya ingin sekali tidak perlu stress… Apa gunanya stress demi sesuatu yang tidak memiliki keuntungan?πŸ˜€

    Menurut saya sih, jelas semua ilmu itu ada untungnya dan bisa berguna. Untuk mempelajari mereka, itu ide bagus… Yang menjadi masalah adalah sistem saat ini menganggap semua bidang ilmu setara dan pada akhirnya disetarakan dengan sistem nilai tersebut. Misalnya, nilai tidak tepat untuk pelajaran seni. Kurang tepat juga untuk olahraga. Akibatnya, murid-murid yang memang kurang, misalnya, atletis, terpaksa harus mendorong diri mereka demi nilai yang sesungguhnya mungkin berada di luar jangkauan. Bisa jadi mereka kalah sekedar karena memang fisiknya seperti itu…

  15. wah…jangan salah loh. Selain sekolah, di perguruan tinggi negeri antah berantah jg seperti itu loh (^-^)v jd sekolah=perguruan tinggi. Klo saya perhatikan, sebagian besar (bukan berarti semua, wlwpun ttp aja mdekati smua) temen2 di kampus saya punya pemikiran/persepsi yg uniform ttg nilai bagus. “Gmn sigh ente ? Klo nilai ga bagus, kita ga bisa dapet kerja ato jd PNS”. WTH…

  16. nilai itu sejujurnya punya peran PENTING, karena mereupakan alat ukur untuk merepresentasikan kompetensi seseorang, atau sampai seberapa jauh anak didik menguasai suatu ilmu

    nah menjadi bermasalah jika, orang lebih mementingkan nilai ketimbang kompetensi itu sendiri, lebih bangga menyelesaikan suatu soal, ketimbang memahami suatu materi, lebih asyik mempelajari soal-soal tahun kemaren ketimbang memahami esensi yang dia pelajari

    kalo sudah begini, yakinlah nilai yang dia dapat TIDAK akan berarti apa-apa, kecuali hanya sekedar penghias tulisan di raport (eh sekolah jaman sekarang masih pake raport ? )

  17. @zahra: Memang, sepertinya di mana-mana konsep itu bertahan… Orang lebih senang mengukur sesuatu sebelum terpakai untuk menilainya, bukan menilai dari hasil sesuatu itu. Saya yakin sekali teman-teman saya yang bahkan nilai seninya (seni sebagai pelajaran yang lebih aplikatif) jelek sekali namun mereka bisa menjadi lebih baik jika di latih. Karena itu, saya sering merasa kalau nilai hanya menjatuhkan pemiliknya…😦

    @adit: Betul, konsep nilai sebagai alat ukur diperlukan. Namun bukan berarti nilai itu menjadi segalanya… Yap, setuju. Teman sekelas saya cengar cengir saja ketika guru matematika mengatakan kalau dosen nantinya tidak akan percaya jika kita hanya menghafal rumus, tapi kita ditanya logikanya. Syukurlah saya nggak bisa menghafal (harus mengerti), jadi semoga tidak terlalu berat…πŸ™‚

    Iya, masih ada raport.πŸ‘Ώ

  18. Gue setuju banget sama artikel ini..
    Bener banget tuh apalgi sekola gue kalo orangnya sering remed pasti dicuekin kalo setiap nanya sesuatu*kejadian sama gue juga
    Gue sering remed nilai gue pasa-pasan*ngga adayg nanya* tapi aneh setiap kali guru nanyain pelajran yg dulu2 gue masih inget sedangkan yg niali gede cuman bisa cengo,ini membuktikan nilai gede bukan segalanya,
    bukan sombong gue jga bisa nilai gede cman sayang gue trauma jadi orang yang unggul,gara-gara kejadian waktu SD gue soalnya kemampuan gue dimanfaatin guru,ngga dihargain sama sekali sama giru,sakit hati banget bukannya jelek-jelekin tp ini fakta kalau ini kejadian terjadi ama kalian ,gue yakin kalian pasti sependapat ma gue*,dan satu lagi hanya mementingkan siswa/i yg orang tuanya sesama guru…*Sorry jadi curhat gue heheheπŸ™‚

  19. 19 junil

    Memang menurutku sekolah itu hanya mencari nilai bahkan KKM nya kian tahun makin tinggi. Nilai bagus dipuji2 yang ada anaknya makin sombong dan gede kepala kan gak bagus juga buat mental anak. Kalo nilai jelek malah dimarahi, dianggap bodoh. Padahal menurutku nilai jelek itu penyebabnya macam2:
    Stress. Ya stress adalah musuh utama. Tugas banyak banget, ulangan, pulang sore atau malam, les tambahan, ekskul. Semua memicu stress. Akibatnya siswa malas kesekolah dan semuanya menjadi beban. Capek fisik+capek psikologis bikin stress dan akhirnya malas.
    Guru. Kadangkala ada sebagian guru yang cara mengajarnya gak enak maka jadilah guru yang inspiratif dan berusaha membuat siswa tertarik untuk belajar. Logikanya gini misal seorang siswa tidak menyukai guru tersebut karena guru tersebut menurut dia cara mengajarnya gak enak rasa ketertarikan untuk belajar hilang seketika karena udah gak suka duluan dan akhirnya jadi malas
    Orang tua. Ada sebagian orangtua yang kurang perhatian atau justru terlalu menuntut anaknya terlalu berlebihan sehingga sang anak merasa terbebani
    Diri si anak itu sendiri. Bila anak malas, tidak mau berusaha, terlalu asik bermain hingga lupa waktu ya itu dapat membuat nilai jelek.
    Sesungguhnya bila anak dapat nilai jelek jangan buat dia semakin stress berilah dia motivasi dan belajar lebih giat. Tidak ada gunanya memarahi anak semua sudah terlanjur yang ada kita harus memperbaiki bagaimana agar nilainya bagus. Sesungguhnya sekolah adalah tempat kita belajar apa yang sebelumnya belum kita ketahui

  20. 20 stella levinsky

    iya,,apalgi klo gurunya pilih kasih, mrid yg guru knal kdang dibri nilai bgus pdahal nyata3nya mrid itu bodoh,,dan yg nyata2nya mrid pntar diberi nilai jelek hnya krna pilih kasih,,kyk aku,,guru zaman skrg tuh jahat tw gak..

  21. 21 Fathul Bary

    aduh nilai mtk ips dan ipa aku jeblok aduh gimana nih ?

  22. 22 Orang iseng

    Benar itu… saya masih smp kemarin UN bahasa inggris dapat 94 dan bahasa indonesia 86… tapi karena matematik saya 40 dan ipa saya 52.. saya diomeli papa saya.. rasanya benar” sakit.. padahal apa yang selama ini saya pelajari bersama guru les saya dan try out” berbeda benar” jauh dari apa yang ke luar di UN


  1. 1 Identitas Diri dan Pelarian « Deathlock
  2. 2 Teknik-teknik Jitu Menyontek « Deathlock
  3. 3 UAS, sudah. Lalu apa? « Deathlock
  4. 4 karna ilmu atau nilai? | catatan kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: