Sekolah: Agar “Berguna Demi Nusa dan Bangsa”?

10Des07

books.jpg

“Kamu kalau besar nanti mau jadi apa?”
“Apa saja Bu, yang penting berguna demi nusa dan bangsa!”

Pikirkan 5 tokoh yang merupakan tokoh dalam sejarah Indonesia. Sebut saja. Sekarang pikirkan apa yang membuat mereka istimewa. Biar saya tebak: semangat perjuangan, patriotisme, mempunyai gagasan unik, kreatif, mengerti keperluan bangsa… Adakah “mendapat nilai besar di sekolah“?

Seseorang akan dianggap penting jika ia dikenang oleh orang lainnya. Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tapi apa yang ia lakukan demi semua orang – itulah yang membuat seseorang menjadi “penting”.

Ilmu, pengalaman, dan semangat kuat adalah kunci-kunci untuk berhasil. Kita semua tahu dengan jelas hal-hal itu. Sekarang, mari kita bandingkan dengan fungsi sekolah: membantu para siswanya mencapai keberhasilan (antara lain). Dari dua fakta itu, mari kita simpulkan:

Sekolah Semestinya Mengajarkan Ilmu, Pengalaman, dan Semangat.

Ok, ok, saya tahu bahwa sekolah memang mengajarkan hal-hal ini. Tapi itu kan secara teoritis. Tidaklah adil jika saya langsung menuduh sekolah mengajarkan ketiga hal tersebut. Tapi mari saya teliti satu per satu.

Ilmu – seperti post saya sebelumnya, ilmu sering tidak dianggap; yang dianggap adalah nilai. Saya rasa itu sesuatu yang tidak adil. Memang, segala sesuatu harus bisa diukur dengan suatu cara, untuk dibandingan. Tapi ilmu itu relatif. Saya bisa saja jago matematika tapi kemampuan bahasa Indonesia saya amburadul. Dan jika hal itu terjadi, maka saya bisa jadi tidak lulus SMA. Ironiskah hal itu, bahwa kami terpaksa menjalani kemampuan secara bercabang, demi sekedar lulus, yang mungkin akan dilupakan saja setelah tuntas belajar?

Ambil saja, Ujian Nasional kelas tiga SMA. Saya seorang murid IPA – aha, sudah ada kemajuan sedikit di sini. IPA dan IPS telah dipisah. Tapi tetap saja, dalam IPA, saya akan diuji 6 pelajaran: matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, biologi, kimia, dan fisika. Saya akan pisahkan Bahasa Inggris, karena saya anggap bahwa pelajaran itu cukup diperlukan, sehubung dengan globalisasi. Tapi lihatlah yang lain. Dengan diujinya semua pelajaran itu, saya dituntut untuk menjadi seorang matematisi, sastrawan, dokter, peneliti kimia, dan insinyur secara bersama-sama. Dan saya rasa, cukup banyak teman saya bahkan tidak akan masuk satupun kelompok itu.

Pengalaman – kelihatannya sederhana. Memang, pengalaman itu akan datang dengan sendirinya, bahkan tanpa diundang. Dengan sekedar hidup, kita memperoleh pengalaman. Tapi, seperti yang diungkapkan Cynanthia, saya, lagi-lagi, akan mempertanyakan sekolah dalam hal ini. Dengan otak berisi pelajaran dari pukul 4 pagi hingga 5 sore (di sekolah saya), dan belum lagi termasuk urusan les tambahan dan pekerjaan rumah, ditumpuk lagi dengan tugas jangka panjang. Hari sabtu saya juga diisi les.

Ini menyisakan sedikit sekali waktu untuk mencari pengalaman lain, bagi hal yang saya anggap penting. Misalkan saja. Saya seorang programmer. Teman saya ada yang komikus, penari balet, penulis novel, fotografer… Berapa waktu lagi yang tersisa untuk pengalaman yang kita tahu sebenarnya akan berarti bagi kehidupan kita? Inilah mengapa yang disebut “hobi” hanya tinggallah hobi – dan juga mengapa sastrawan atau pelukis sering dianggap rendah (kecuali ia bisa menghasilkan uang banyak).

Karena itu, harusnya sekolah dapat menutupi kekurangan pengalaman itu. Dan itu ditutupi dengan apa? Berjam-jam duduk di depan meja, mencatat, mengerjakan soal, dan menggapai nilai yang setinggi-tingginya? Sekolah dapat melatih seorang murid untuk menghitung integral dari suatu penjabaran matematika panjang lebar, tapi ia tetap tidak akan tahu cara mengatur keuangan pribadinya dengan baik. Mau dari mana pengalaman kita?

Semangat – saya setiap hari bahagia sekali datang ke sekolah. Tapi saya tidak pernah berjalan masuk sekolah dengan pikiran “asik, hari ini saya akan diajari cara menghitung muatan partikel yang bergerak dari satu ujung kabel ke ujung lain dan dipengaruhi sebuah magnet”. Tentu tidak. Yang saya pikir adalah “asik, bisa bertemu teman-teman. Saya mau cerita tentang kejadian tadi malam“.

Saya senang dengan lingkungan sekolah. Senang dengan sahabat saya. Senang akan kebersamaan itu, dan senang berbincang dengan guru. Tapi bukan untuk belajar. Saya tidak punya semangat untuk itu. Ada dua kemungkinan masalah: apakah saya yang tidak termotivasi, atau ini masalah dengan sistem sekolah? Saya bisa tanya setiap teman saya, apakah yang ia harapkan dengan ilmu yang dipelajari setiap hari. Hampir semuanya akan menjawab kira-kira “agar saya dapat lulus, kemudian masuk fakultas yang saya inginkan“. Anda lihat satu pola di sini?

Jadi, apakah sekolah memang mendorong kita agar menjadi “orang yang berguna demi nusa dan bangsa”?

Disclaimer: Saya tidak menulis artikel-artikel ini sebagai hinaan terhadap pendidikan maupun guru-guru saya. Saya sangat menghormati mereka. Ini merupakan kritikan terhadap sistem pendidikan, yang diarahkan kepada semua orang: pemerintah, teman-teman saya, dan guru-guru saya juga.



27 Responses to “Sekolah: Agar “Berguna Demi Nusa dan Bangsa”?”

  1. Kata2 klise…

  2. Tapi clichepun harus dianggap serius. Hehehehe.:mrgreen:

  3. โ€œagar saya dapat lulus, kemudian masuk fakultas yang saya inginkanโ€œ

    Masalahnya setelah selesai dari fakultas itu terus mau apa?:mrgreen:

  4. Hmm, biasanya mereka nggak bisa menjawab pertanyaan itu. Jawaban paling standar adalah “lihat nanti aja deh kalau udah selesai kuliah”. Sebenarnya ini juga sesuatu yang meragukan… Rencananya sih itu bakal jadi topik post ke-empat di seri ini.:mrgreen:

  5. Ada apa ini?๐Ÿ˜ฏ
    Menjelas UN malah banyak tulisan menyoal pendidikan.๐Ÿ˜†

    Masalahnya setelah selesai dari fakultas itu terus mau apa?

    Saya rada aneh. Setelah UN pun saya males mikir kuliah ke mana. Saya ikut SPMB. Diterima di pilihan kedua yang katanya universitas bergengsi yang memakai nama negara ini sebagai nama di belakang kata “Universitas”… dengan fakultas yang tidak main-main, filsafat. Tetapi karena saya agak aneh, tetap saja saya lepas… Dan beralih ke jurusan yang memang saya senangi: IR. Setelah lulus IR? Sudah ada pertimbangan melanjutkan ke program magister.๐Ÿ˜›
    Setelah itu? Ngalor-ngidul ga keruan jadi tenaga pengajar di institusi perkualiahan.:mrgreen:
    (ini rencana ke depan๐Ÿ˜† ~)

    Saran: Debatlah dosen ketika kuliah, syukur-syukur dapat dosen yang kritis dan mau berpikir.:mrgreen:

  6. Memangnya dosan pada susah diajak debat? Guru-guru saya sekarang paling mau diajak ngobrol. Hahaha๐Ÿ˜›

    Saya nggak tahu nih mau ke mana. Bahkan nggak tahu apa mau kuliah atau tidak. Bingung. Tapi bagaimanapun… SMA tetap paling enak. Sayang sekali harus dicabik-cabik segala macam pelajaran…๐Ÿ˜ฆ

  7. @rozenesia:
    That’s life๐Ÿ˜€

    @steax:
    kalau dosen/guru ngga mau diajak debat atau ngobrol soal pelajaran (paling kecil meralat materi pelajaran atau bertanya), berarti patut dipertanyakan:mrgreen:

  8. Heheheee… Saya lakukan perencanaan dari sekarang ah. Saya memilih sekolah/kuliah karena berniat menjadi tenaga pengajar. Mau bagaimana lagi, tenaga pengajar di institusi perkuliahan sekarang dinilai dari titel, dab.๐Ÿ˜†
    (meskipun honor tenaga pengajar rada kecil, yang penting gapai mimpi๐Ÿ˜† )

    Justru dosen kadang suka didebat lho. Dosen tertentu aja. Jangan kayak dosen agama A di fakultas saya๐Ÿ˜›
    Ngutip Matius kok cuma satu bagian, kena bantai oleh saya deh… *perlihatkan Matius secara penuh*๐Ÿ˜†

  9. intinya belajar kan?

  10. 10 Magister of Chaos

    Semuanya kembali kepada hati dan niat masing masing….. hehehe

  11. 11 Dream Maker

    steax ga ada motivasi buat belajar ya?

    emang kalo pelajarannya ga menarik [terutama gurunya] ga ada motivasi sekolah

    masalahnya kalo misalnya kita gak sekolah sama sekali, kita gak mungkin diterima kerja dimana-mana kan? [selain jadi pekerja dengan gaji rendah]

    sekolah lumayan berguna kok, buktinya niat mau ketemu teman juga salah satu manfaat sekolah kan? belom tentu kalo gak sekolah bisa ketemu mereka๐Ÿ˜†

    maaf kalo ga nyambung๐Ÿ˜›

  12. Maap ya tidak nongol di blogosphere… Gara-gara ujian. Huahahahaha.

    @Cynanthia: Betul. Lalu kenapa banyak guru yang menganggap bidang studi mereka sebagai ilmu mutlak yang nggak perlu dilawan ya… Saya sering dimarahi kalau menanyakan “kenapa itu bisa seperti itu?”, biasanya dijawab ketus dengan “sudah, memang seperti ini, terima saja”.๐Ÿ˜€

    @Roze: Saya paling suka debat sama guru… Apalagi kalau saya yakin benar. Hahahaha๐Ÿ˜› Sebagian besar orang sepertinya memang kurang yakin apa pekerjaannya nanti… Mereka lebih “suka” dengan satu bidang, walaupun ragu apa yang sebenarnya dapat dilakukan dalam bidang itu (misalnya orang masuk IT karena senang main game komputer).

    @GRaK: Intinya belajar. Tapi belajarnya ini yang diragukan.:mrgreen:

    @Magister of Chaos: Betul!! Masalahnya hati dan niat saya agak melenceng sepertinya.๐Ÿ˜€

    @Dream Maker: Saya dulu sangat termotivasi belajar. Dulu, terutama waktu sekolah di Amrik, saya itu ada perasaan girang pas pagi-pagi, “yay, hari ini akan diajarkan tentang [sesuatu]. Dah lama pengen tahu tentang itu. Sepertinya menarik.” Tapi hal itu nggak pernah terasa lagi… Jadi dengan itu motivasi saya jatuh.

    Apalagi, saya itu kalau mau mengerjakan sesuatu, harus benar-benar mengerti. Saya nggak bisa, hanya dikasih rumus terus disuruh mengisi soal… Karena bagi saya itu nggak berguna. Saya harus mengerti logika dan teori di balik itu. Sementara guru lebih peduli dengan kemampuan saya mengerjakan soal. Kadang-kadang, murni dari teori dan konsep saya bahkan bisa menyusun rumus saya sendiri on-the-spot ketika ulangan.

    masalahnya kalo misalnya kita gak sekolah sama sekali, kita gak mungkin diterima kerja dimana-mana kan? [selain jadi pekerja dengan gaji rendah]

    Topik post saya selanjutnya, haha… Tidak begitu juga kok. Ada pekerja berdasarkan kemampuan, dan ada juga berdasarkan keterampilan. Banyak sekali orang-orang yang berkecimpung di bidang tertentu yang sesungguhnya tidak perlu sekolah dengan maksud pelajaran seperti sekarang. Ambil saja pelukis, penari, fotografer… mungkin mereka bahkan lebih cocok mengikuti kursus masing-masing daripada sekolah formal. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Indonesia sedang krisis seniman.

    Beruntung sekali, pekerjaan saya saat ini juga tidak mengandalkan sekolah. Sebagai designer/developer web, saya bisa bekerja tanpa dilihat pendidikannya… Portfolio dan kemampuan jauh lebih dipentingkan.๐Ÿ™‚

    Menurut saya sekolah juga berguna. Yang kurang berguna itu tata cara pengajaran kurikulumnya, hehe. Nyambung kok. ^^

  13. 13 Dream Maker

    Kalau mau mengulang sendiri dari awal mungkin desinger/developer web masih butuh ijazahnya

    Tapi lain dengan seniman, yang penting kreatifitas

    Mungkin cara mengajar sekolah jaman sekarang udah ga bener yah /hmm

  14. Designer/developer web kalau di Indonesia masih suka ditanyai… Tapi di luar tidak. Sebenarnya di luar memang lebih banyak diperiksa pengalaman daripada pendidikan… Nah, poin itu yang lagi saya bahasa, haha.:mrgreen:

    /ho

  15. Sekolah. Haha, jadi ingat lawakannya Annas yang berdasarkan kisah nyata.
    Kenapa sekolah? Supaya bisa kuliah yang bagus-bagus. Kenapa kuliah yang bagus? Supaya gampang dapat kerja bagus. Kenapa mau kerja yang bagus? Supaya dapat uang.

    Buat apa dapat uang? Untuk penghidupan keluarga. Hmmmm… dengan kondisi bangsa yang macam ini, entah kenapa saya — dengan pandangan yang terbatas dan sempit — mikirnya negeri ini butuh seorang tumbal, kasarnya. Atau mungkin bukan seorang — lebih. “Tumbal” yang mau membangun, bekerja, berusaha demi bangsa dan bukannya kepentingan kelompok tertentu (juga keluarga). Sesosok yang mau fokus tinggi pada negara.

    (landasan berdirinya entri ini, haha)

    On topic.
    Kalau menurut saya, UAN yang 3 mata pelajaran itu sudah cukup deh. Ngga kurang, ngga lebih. Matematika adalah dasar; jelas buat belajar. Makanya sebenarnya di jurusan IPS jangan diganti Ekonomi, Matematika aja. Ekonomi punya matematika, tapi matematika ngga punya ekonomi.

    Bahasa Inggris, menyoal globalisasi. Ya, ya, standar. Bahasa Indonesia, IMO, bukannya harus jadi sastrawan. Tapi untuk mengenal bahasa sendiri. Sebutan “buat apa belajar Bahasa sendiri,” menurut saya ngga tepat. Wong istilah-istilah Indonesia yang bukan kata serapan mak jegagik aja kayaknya masih banyak yang belum mengerti.๐Ÿ˜• Belum lagi idiom-idiom, tata bahasa, dsb. Kayaknya memang ngga penting, tapi kalau suatu saat mau membuat laporan ilmiah — atau bahkan buku — kan perlu. Bahasanya harus bagus.

    Jujur saja, secara subjektif dan personal, saya kurang menikmati bacaan yang bahasanya blibet dan kurang pas di hati (halah).๐Ÿ˜› Hahaha.

  16. Lagi OL rupanya kau. Bahan Sejarah nyari dimana nih?

  17. Sebenarnya… Satu hal yang buat saya sangat sebal sama pelajaran bahasa Indonesia. Masa kita disalahkan karena menyingkat Jalan sebagai “Jl.”? Atau kesalahan-kesalahan sejenisnya yang menurut saya agak memaksa. Namanya juga bahasa, fungsinya untuk komunikasi. Urusan seperti penyingkatan kata Jalan atau seperti kata “menyontek” yang seharusnya “mensontek”, itu sudah mengikuti perubahan bahasa populer… Apakah masih tepat jika kita disuruh remedial karena menggunakan bahasa baru?๐Ÿ˜€

    Iya, sedang online… Susah carinya, memang. Dari tadi susah…๐Ÿ˜ฆ

  18. Kalau “menyontek” dia melebur bukan? Soalnya kan K-T-S-P.
    Yang Jl.-jl.-an, dalihnya kan karena untuk 5 huruf saja rasa-rasanya ngga perlu disingkat. Tapi jadi penasaran juga, yang pertama kali menyingkat jadi Jl. siapa ya?๐Ÿ˜›

    Perubahan bahasa memang ngga terhindarkan.๐Ÿ˜€ Makanya kan ada peyorasi, ameliorasi, dsb. Tapi tentu tetap perlu dibatasi dan ada kaedah-kaedahnya.๐Ÿ˜€
    *tiba-tiba jadi inget Mein Kampf*

    Nyari yang konflik Reformasi nih. Kenapa sih reformasi prematur?

  19. … “Nggak” – “gak” – “ga” – “g”

    Itu dari 5 huruf sampai disingkat jadi 1 (biasanya buat di sms). Gawat kan?๐Ÿ˜€

    Perubahan bahasa itu harus ada. Satu yang buat saya sedikit kurang tertarik dengan bahasa Indonesia itu kekurangan kosakata yang dimengerti umum. Sebenarnya kosakatanya luas, tapi banyak yang tidak dikenal umum…

    Reformasi prematur karena ada hormon yang kurang dalam tahap kehamilan. Hehehehe๐Ÿ˜›

  20. Kalau itu sih udah ngga formal.๐Ÿ˜› Gawat memang.

    Yah, kata serapannya dari macam-macam sih, jadi kosakatanya juga macam-macam… kalau bahasa Inggris kan rata-rata dari Latin sama Perancis kuno aja. Sebagian besar. Tapi bahasa Indo juga sebenarnya banyak kata-kata serapan yang rada ngga jelas (semi-Inggris) ah, kayak konstelasi.๐Ÿ˜›

    Hmm… analoginya bisa juga sih. Apa hormon yang kurang itu?๐Ÿ˜• Kurang sumpahnya Habibi?๐Ÿ˜›

  21. 21 Dream Maker

    โ€ฆ โ€œNggakโ€ – โ€œgakโ€ – โ€œgaโ€ – โ€œgโ€

    Itu dari 5 huruf sampai disingkat jadi 1 (biasanya buat di sms). Gawat kan?

    buat ngehemat pulsa [katanya]

    Mungkin sekolah berguna, yang engga berguna itu buku pelajarannya…

    Mungkin -_-

  22. @Dream Maker:
    Buku pelajaran banyak yang isinya dangkal, jadi dibilang nggak guna ada benernya juga -_-

  23. Kalau begitu coba jurusan IPs.๐Ÿ˜›

  24. 24 Dream Maker

    Saya gak mau sekolah!!!! [ditedang]

    Sayangnya di sekolahku yang 1 ini katanya ga ada jurusan IPS, sejak kelas 10 pula ~__~

    Tapi semoga sekolahku ini mementingkan analisis ketimbang buku pelajaran [doa]

  25. 25 its me dhe

    hmmmm

    meNguTip kaLimaT daRi buKu “BORN TO BE A GENIUS”

    TiDak PeNtiNg baGaiMana niLai kIta aKadeMiK kiTa, aPakaH BagUs oR jeLek yaNg terPenTiNg adaLah baGaiMana kiTa LULUS DARI UNIVERSITAS KEHIDUPAN

    Hoooo,,,jaDi sekoLah Tuh berGuNa

  26. Weks, lupa jawab-jawabin. Hehehe.

    @Xaliber [1]: Lebih baik menciptakan kosakata baru daripada menyerap, menurut saya… Kalau menyerap kan seperti melayu. Seharusnya Indonesia tidak terlalu kaku dalam bahasanya – lagipula, itu bahasa kita semua.

    @Dream Maker [1]: Hemat pulsa iya, transformasi istilah iya juga.๐Ÿ˜› Padahal biasanya buku pelajaran (apalagi kalau ditambah pernak-pernik seperti “CD interaktif” de es be) lebih mahal daripada sekolah itu sendiri, secara keseluruhan. Tapi biasanya oleh murid digletak sana-sini.:mrgreen:

    @Cynanthia: Satu hal yang buat saya dendam sama buku pelajaran. Isinya, kalau tidak terlalu teknis (sampai setara dengan kuliah isinya), seperti novel! Apalagi buku kewarganegaraan saya. Sudah seperti novel cinta tulisannya, ditambah lagi nggak ada indexnya! Penderitaan mencari satu nama….๐Ÿ˜ฆ

    @Xaliber [2]: Memangnya banyak berbeda?๐Ÿ˜›

    @Dream Maker [2]: Asalkan guru bisa mengerti analisis… Kembali ke aturan para guru-guru. Harus benar. Kadang-kadang guru tidak bisa menerima analisis siswa – dan meskipun telah dijelaskan atau dituturkan seperti apapun, sejauh-jauhnya guru tidak akan lepas dari analisanya sendiri, walaupun mungkin salah. Tidak semua guru, untungnya. *berlindung sebelum ada guru yang baca*

    @its me dhe: Betul! Yang penting hidup kita berarti. Dalam 100 tahun lagi, kita semua yang sekarang ada sudah akan menjadi kenangan, sejauh-jauhnya sebuah nama di catatan kekeluargaan atau perbincangan santai. Hidup adalah upaya untuk membuat kita “berbeda”, dalam cara kita masing-masing.


  1. 1 Evaluasi dan Resolusi untuk… Revolusi? « Deathlock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: