4 Kebodohan (Kekampungan) Orang Jakarta

23Jan08

Bagian 1: Transportasi.

  1. Menyuruh bus berhenti sembarangan. Hei, saya tahu kalau ini “biasa” terjadi. Tapi kalau dipikir, ya, bus yang bolak-balik terus menerus akan mendapat hampir sama banyak pendapatan dengan bus yang tidur sejam sambil menunggu penumpang; dan itu dengna keuntungan bahwa orang cepat sampai. Kebodohan yang sudah disadari oleh hampir semua negara di dunia… Kecuali Indonesia. Bahkan nggak ada yang menyarankan penggunaan jadwal (dan didengar oleh pemerintah).
  2. Enggan bergerak memenuhi bus (terutama Transjakarta). Saya marah-marah di sebuah bus transjakarta beberapa hari yang lalu. Bagian depan dan belakang bus hampir sama sekali kosong wilayah tengahnya (bahkan ada orang yang duduk sambil menyelonjorkan kakinya). Sedangkan di dekat pintu orang yang berdiri sangat padat. Apa susahnya bergerak 5 langkah untuk memberi ruang bagi penumpang lain? Ketika marah-marah itu, ada seorang remaja lain yang menjawab kepada saya, “malas ah nanti ke pintu lagi“. Jadi orang Jakarta malas berjalan beberapa langkah. Gimana mau maju negara ini..?
  3. Di persimpangan jalan, memberhentikan kendaraan di depan zebra cross. Oh, yang ini sangat sering saya lihat. Dan sesungguhnya – maafkan penggunaan bahasa saya – ini sesuatu yang amat sangat goblok sekali. Mereka tidak menyadarinya, tapi berhenti di depan zebra cross memperlambat jalan. Serius. Karena dengan maju tersebut, anda lebih dekat dengan sisi seberang persimpangan. Dengan demikian, lintasan untuk anda mempercepat kendaraan anda menjadi lebih pendek, dan walhasil, kecepatan anda jauh lebih lambat. Sedangkan orang akan berhenti di depan sana sekedar agar lebih dekat… Sambil sekaligus membuat lalu lintas berantakan, meningkatkan resiko kecelakaan, dan memperlambat lalu lintas. Hebat, 3 dosa dalam satu tindakan.
  4. Budayakan berdiri di sebelah kiri eskalator/jalan sempit bila tidak buru-buru. Saya sering melihat segerombolan orang menaiki eskalator, kemudian saling bersandar ke pinggir eskalator, melebarkan tangan mereka, dan ngobrol di situ. Lagi-lagi ini sesuatu yang kampung – negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia saja sudah cukup maju akalnya untuk mengerti. Mengikuti adat ini berarti orang yang terburu-buru dapat lewat dengan cepat. Sekaligus ini juga mengurangi kemungkinan ada kecelakaan atau hal lainnya (seperti terjatuh dari eksalator…). Saya bahkan pernah menanyakan ini kepada teman saya selagi berada di sebuah bandara (di luar negeri). Jawabannya? “Lah, suka-suka gue mau gimana.” Iya, suka-suka saya juga mau lempar bola bowling dr puncak monas ke kepala seseorang di bawah… kan suka-suka saya.

Orang Indonesia merupakan salah satu bangsa dengan kecepatan berjalan orang rata-rata terendah. Jelas saja negaranya sama saja…



27 Responses to “4 Kebodohan (Kekampungan) Orang Jakarta”

  1. Wedeh, aku ga tinggal di JKT jadi ndak tau to mas.:mrgreen:

  2. 3 prinsip orang Jakarta (atau Indonesia?):
    + Tujuan tercapai bagaimana pun caranya (terpenuhi pada poin 1 dan 3)
    + Kalo orang lain ngga berbuat X, maka kita ngga perlu berbuat X (terpenuhi pada poin 2)
    + Junjung tinggi demokrasi; kebebasan untuk berbicara dan bertindak secara total (terpenuhi pada poin 4)

    Terutama saya paling tidak suka yang menggunakan alasan, “suka-suka gw.” Apalagi kalo sudah ada yang berdalih, “Ini era reformasi, kan?!” Halah… (maaf) kampretmu reformasi bisa suka-suka situ.

    Btw, untuk penggunaan kata istilah ‘kampungan’ (mau pun ndeso) pada konteks masyarakat global saya rasa rada bernada peyoratif… mengingat dalam beberapa aspek di atas saya lebih bisa menghargai orang yang hidup di daerah pedesaan.

  3. Oh, dan saya rada kesal lagi mendengar salah satu kenalan yang menerapkan prinsip pertama dengan parah. “Susah amat masuk UI?? Kalo perlu gw bayar lebih deh!” Makanya Indonesia mengenal ‘budaya’ menyontek dan korupsi tingkat akut.πŸ˜€

    *kata-kata dari seorang rigid*
    *tidak menunggu ad hominem*

  4. Sekedar komentar tidak penting yang berfungsi sebagai penjelas sekaligus pelengkap; komentar pertama saya di entri ini (komentar nomor 2) menggunakan majas dengan tujuan menyindir. Jadi bukan generalisasi.

    Sekalian hettrik.

    Salam.

  5. Hehe, di Bandung belum ada busway, sih, jadi saya nggak tahuπŸ˜›

    Orang Indonesia merupakan salah satu bangsa dengan kecepatan berjalan orang rata-rata terendah.

    Apa kalau gini perlu dipasang timer di lampu merah? Kayak di Singapura sana?πŸ˜•


    Tapi di Bandung sini ada satu yang pake timer, tapi timer-nya ngawur.😐

  6. Selalu tertarik dengan tulisan tentang “kebodohan” orang “Indonesia”. Saya melihatnya sama saja, di Jakarta, di Medan, Pekanbaru, Jambi, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Balikpapan, Makasar, Mataram dsb (menyebut beberapa ibukota propinsi yg pernah saya datangi). Kota besar, kota kecil kurang lebih sama saja.
    Sepertinya (menurut saya) orang Indonesia tidak biasa dengan “disiplin”. Saya sendiri mungkin contohnya…
    Mungkin karena orang kita tidak biasa dengan tindakan disiplin yg mendidik, atau karena memang tindakan disiplin itu tidak ada. Kalaupun ada mungkin bisa diganti dengan suap…..
    Mungkin memang perlu dimulai dari sejak TK atau minimal SD, terus menerus – untuk mengingatkan bagaimana “budi pekerti universal” itu seharusnya diterapkan.
    Anak saya yg masih di TK sering mengingatkan saya ketika saya “melanggar” beberapa hal yg diajarkan kepadanya. Cukup efektif karena saya jadi malu, minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
    Ah memang kelihatannya terlalu menyederhanakan masalah, tapi berharap banyak sama pemimpin kita, sepertinya mereka nggak akan pernah memberi contoh……
    Malu banget rasanya kalo pas ada di negeri orang (apalagi negara maju)…

  7. 7 tehaha

    yups, kadang hal-hal kayak gitu emankk bikin kesel..
    gwe paling males kalo duduk di bis ada orang yang disamping gwe serakah ma tempat duduk alias ga mau bagi..padahal kan sama2 bayar,..:)
    butuh kesadaran…
    harus dimulai dari yang kecil2 dulu kayaknya..

  8. Hmm… berhenti seenaknya, ya…😐
    Kalo di Bandung yang kayak gitu paling-paling angkot.

  9. @Gun: (Nama rozenesia ga dipakai sama sekali lagi nih..?) Tinggal menunggu kejadian-kejadian ini menghampiri kota besar di dekat anda.:mrgreen:

    @Xaliber: Prinsip orang indonesia soal uang: Pakai duit = Dapat pekerjaan bagus = Dapat duit banyak. Di mana pekerjaan bagus = Pekerjaan di instansi yg kaya (Pertamina, BI, dsb). Bila rumus di atas tidak dapat diwujudkan, maka diganti dengan Pakai Duit = Nganggur = Merasakan Penderitaan Di Jakarta, tapi tetap mau tampil keren.

    Memang ada sesuatu yang aneh di sini… “Kekampungan” = “Seperti kampung”, padahal menurut saya juga orang kampung banyak yg lebih beradab daripada orang Jakarta. Tanya kenapa?

    Masalahnya, memang hukum “suka-suka gue” itu berlaku sekali di Indonesia. Sulit sekali mencari keadilan dari suatu kejadian… Bahkan kita kadang-kadang perlu bertanya apakah keadilan itu masih ada atau tidak…😦

    @Cynanthia: Oh, Jakarta sudah pasang timer kok. Menurut saya sih berguna… Walaupun setengahnya udah nggak berjalan lagi.πŸ˜›

    @bsw: Kalau menurut saya, “disiplin” sudah diajarkan, tapi tidak ditegakkan. Selain itu, kesalah besar lainnya adalah bahwa orang menganggap peraturan sebagai hambatan, bukan suatu pernyataan logis. Orang merasa bahwa peraturan “dilarang membuang sampah sembarangan” ditegakkan sekedar karena itu peraturan, dan bukan karena itu dapat merusak kualitas tanah dan keindahan.

    Ditambah lagi sifat kekurangan malu-nya orang Indonesia…😦

    @tehaha: Betul… pertanyaannya sekarang, siapa yang mau mulai menumbuhkan kesadaran itu? Nggak ada yang mau duluan menegakkan keadilan di sini, sepertinya…

    @Cynanthia: Oh, di jakarta juga angkot bermasalah. Sampai saya menuduh angkot sebagai penyebab kemacetan terbesar. Tapi di Jakarta sih… Semua kendaraan umum berhenti seenaknya ^^”

  10. Menurut saya sih berguna… Walaupun setengahnya udah nggak berjalan lagi.πŸ˜›

    Gubraks!!! =____=”
    Sama aja bohong atuh…

  11. Memang sama saja bohong…:mrgreen: Orang Indonesia memang payah soal me-maintain sesuatu. Begitu parahnya sampai saya nggak tahu istilah bahasa Indonesia untuk “maintain” itu apa…πŸ˜€

  12. @Steax:
    Ja… karena orang kelas atas cenderung melihat rendah yang dianggap sebagai kelas bawah? Maka timbul istilah ‘kampung’. Atau alasan yang lebih netral mungkin karena orang-orang di desa yang umumnya hanya menerima perkembangan dari daerah kota cenderung rigid. Makanya dapat konotasi negatif.

    Menurut saya keadilan masih ada, dan selalu ada. Hanya saja tidak ada yang mengangkatnya. Justice is always on his throne, but no one there to uphold him.

  13. Karena itu, terjadi ironi di sini. “Kekampungan”, dengan arti “Seperti orang kampung”, lebih baik daripada orang kota. Jadi…?:mrgreen:

    Keadilan ada, tapi, seperti semua hal lainnya di Indonesia, nggak ada yang peduli sama dia kecuali a) dia membagikan sembako b) dia membagikan hadiah undian atau c) dia cantik/ganteng sekali.😦

  14. Jadi… paradoks?πŸ˜•

    Karena tak ada yang mengangkatnya maka keadilan tidak muncul.😐

  15. Karena itu, terjadi ironi di sini. β€œKekampungan”, dengan arti β€œSeperti orang kampung”, lebih baik daripada orang kota. Jadi…?:mrgreen:

    Mbuh, sekarang nggak jelas mana orang kampung dan mana orang kota. Dua-duanya banyak yang sama ngaco-nya.πŸ˜†

  16. 16 Dream Maker

    Di luar negri gak serapi itu

    Aku selalu tanya, “Kalo mau diem, itu kanan ato kiri?”

    Gak ada yang bener -_- ada yang di kiri, ada yang di kanan

    [suka pusing sendiri]

  17. @Xaliber: Betul!! Keadilan hanyalah realita dalam kepala manusia yang selamanya menjadi impian.. Kenyataan memang pahit.😦

    @Cynanthia: Yang membedakan sekarang yang paling dapat saya lihat adalah raut wajahnya. Orang desa memiliki wajah yang umumnya cerah dan setidaknya akan tersenyum lembut ketika ada yang tersenyum padanya. Ia juga tidak akan segan-segan membantu anda sebentar dalam urusan anda, dan bersalaman dengan ramah dengan anda.

    Orang kota… Perlu saya sebutkan?πŸ˜›

    @Dream Maker: Di luar memang pusing, tapi setidaknya mereka mengerti apa yang dimaksud. Orang Indonesia?

    “Mas, kalau mau diem, itu kanan ato kiri?”

    “Apa? Diem? Ngapain?”

  18. Poin 1 & 2 terjadi juga sehari-hari di angkot Bandung dan sering bikin saya sebal seperti di atas. Sering kepikiran hal tersebut dan ketidak disiplinan/kebodohan lainnya, sayanya yang terlalu perfeksionis atau lingkungannya yang lame abis? :mrgreen:

  19. Itu jelas ketidak disiplinan! Kutipan chat saya dengan seorang teman di New York (translated):

    Saya: Jakarta sedikit ramai, mungkin kamu nggak tahan…

    Dia: Oh, ramai seperti apa?

    Saya: Jalanan sempit, macet, udara kotor, dsb…

    Dia: Jalan sempit? Bukannya waktu di foto itu lebar-lebar?
    (Saya pernah menunjukkan foto jalan di jakarta jam 5 pagi)

    Saya: Itu lagi sepi…

    Dia: 4 jalur seperti itu memangnya bisa sesempit apa?

    Saya: Jalur 1 untuk bus nunggu penumpang, Jalur 2 untuk angkot nunggu penumpang, Jalur 3 untuk pemilik bus/angkot tersebut nongkrong dan untuk ojek, dan Jalur 4 untuk jualan kaki lima…
    😦

  20. @steax:

    Yang membedakan sekarang yang paling dapat saya lihat adalah raut wajahnya. Orang desa memiliki wajah yang umumnya cerah dan setidaknya akan tersenyum lembut ketika ada yang tersenyum padanya.

    Ah, benar itu! Rasa Gemeinschaft dan kekeluargaan orang-orang di pedesaan jauh lebih baik.πŸ˜€

    *jadi ingat pas TO dan liburan-liburan ke desa lainnya*

    Betul!! Keadilan hanyalah realita dalam kepala manusia yang selamanya menjadi impian.. Kenyataan memang pahit.😦

    Maka dari itu kalau menurut pikiran saya, kita butuh sesosok figur martir.😈

  21. hmm…klo saya lebih geram sama pengendara sepeda motor yang menggunakan trotoar layaknya jalur pengendara. Suatu saat, saya pernagh saking sebelnya (waktu itu lg macet2nya) ada pengendara motor yang bearda di trotoar dan tepat di belakang saya. Klakson dari pengendara speda motor tersebut berkoar2 di belakang saya sebagai peringatan klo saya harus menepi. Tapi reaksi saya yagh cuex ajagh. Wong trotoar ini buat pejalan kakki ko bukan buat pengendara motor. xixixi…

  22. @Xaliber: Betul! Orang perdesaan jauh lebih manusiawi daripada orang kota..😦 Figur martir? Ada yang mau menjadi penerus pak (alm.) Harto?πŸ˜€

    @zahra: Setuju! Saya paling nggak suka kalau motor seenaknya mengambil jalan pintas… Nanti kalau memang ada zona khusus sepeda, saya takut tempat itu malah menjadi sarang motor. Dan supir motornya gila-gila juga, kalau memang ada yang menghalangi main tabrak saja… Dalam hal ini, saya setuju dengan adanya pedagang kali lima.:mrgreen:

  23. hhmmm…saya termasuk ga ya??πŸ˜•

    *mikir*

  24. Dalam hal ini, saya setuju dengan adanya pedagang kali lima.:mrgreen:

    Xixixixi…. adakalanya PKL justru bisa jadi daya tarik wisatawan. Cuma sweeping oleh pemerintah itu lho… nggak tepat sasaran.πŸ‘Ώ

  25. @cK: Saatnya kontemplasi.πŸ˜€

    @Cynanthia: Hmm, mungkin. Ada yang daya tarik, ada yang bukan… Tapi sebelum mengurus kaki lima mungkin ada hal-hal lain yang juga perlu dilakukan pemerintah. *cough* korupsi *cough*

  26. 26 putrauchiha

    hm….. gw mao tuh jadi penerus pak harto, orangnya hebat euy… tapi gag pake korupsi…πŸ™‚

    btw, hello salam knal…

  27. Ayo dicoba ^^ Dia memang hebat, tapi seperti semua pemimpin besar lainnya, pasti ada kesalahan suatu tempat di karirnya…😦

    Salam kenal juga…πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: