Sudah, CUKUP!! Belajar di sekolah itu memuakkan!!

24Feb08
593861_crushed.jpg

Hmm. Saatnya untuk post yang emosional, karena memang ini saat-saat yang seperti itu.

Saya sudah muak dengan belajar di sekolah! Muak!

Sudah duabelas tahun belajar; belum termasuk TK dan sisa embel-embel les sepulang sekolah. Dua belas. Semuanya untuk tiga hari! Setidaknya 2700 hari menderita di sekolah hanya untuk itu!

Seandainya saja 2700 hari itu saya pakai untuk yang lain, tidakkah itu lebih berguna? Toh, pendidikan fungsinya adalah mempersiapkan masa depan, maka untuk apa belajar semua itu? Tidak perlu membuat definisi-definisi baru; itulah pendidikan, dan kita nggak perlu melakukan sesuatu di samping itu.

Tujuan hidup sebagai manusia juga tidak jauh-jauh: pasti sekitar membuat perubahan kepada dunia. Iya, karena manusia paling takut dilupakan. Saya sih tidak mau harus berputar-putar dari A ke B ke C ke D sekedar untuk mencapai tujuan itu. Saya hidup untuk itu, yasudah, mengapa harus susah-susah ke sana kemari?

Kalau perlu, ok. Kalau tidak, buat apa?

Saya tidak habis pikir. Jika saya mau jadi dokter, maka dengan sungguh-sungguh saya akan mempelajarinya. Sama seperti anda semua blogger; anda akan dengan senang hati mempelajari sesuatu yang memang anda sukai. Karena nanti anda akan mendapat kesempatan menggunakannya.

Lantas, kalau memang tidak perlu, maka untuk apa? Untuk “menilai kepintaran“? Bah, itu omong kosong. Tidak ada yang pintar, tidak ada yang bodoh; untuk alasan yang sama mengapa tidak ada yang benar maupun salah. Manusia sedemikian merasa hebat; padahal tidak ada satupun orang yang tahu apa kegunaan kita di masa depan. Kita memiliki keinginan, inspirasi, dorongan ke sesuatu yang menurut kita luar biasa; kita semua punya! Tapi mengapa harus ada pendidikan yang nggak perlu, yang hanya membuang biaya, usaha, dan menghancurkan impian?

Jika perlu, saya akan buat jalan saya sendiri. Orang bilang bahwa “sekolah itu memang harus dilakukan, itu sudah aturannya”. Aturan siapa? Untuk apa? Pernyataan seperti itu benar-benar bodoh. Untuk alasan yang jelas; tidak ada yang harus di dunia ini, jika kita merasa demikian! Kalau tidak mau makan, bisa infus. Paling jauh akibatnya mati kelaparan. Iya, mati, namun itu bukan berarti tidak bisa makan kan? Bisa, tapi mati. Buang saja tapi-tapian itu; intinya bisa. Kenapa tidak bisa sukses tanpa sekolah?

Saya muak, saya benar-benar muak.

Jujur, jika saya tidak lulus, maupun tidak diterima di universitas bagus, saya tidak peduli! Saya akan melanjutkan segala macam kegiatan lainnya, yang menurut saya jauh lebih berguna!

Saya bisa menulis lebih banyak. Saya sangat kesal dengan sikap semua orang perihal ini. Membuang banyak sekali dari hidup untuk sesuatu yang tidak terpakai. Saya sedang membangun perlawanan untuk pendidikan dalam hal ini. Nantikan saja.

Terima kasih.



41 Responses to “Sudah, CUKUP!! Belajar di sekolah itu memuakkan!!”

  1. Yupz… beberapa hal yang kamu katakan itu benar

    “anda akan dengan senang hati mempelajari sesuatu yang memang anda sukai. Karena nanti anda akan mendapat kesempatan menggunakannya.”

    Namun kita perlu sadar juga bahwa setiap yang kita sukai itu belum tentu itulah yang terbaik bagi kita. Bisa saja kesempatan dan kesenangan itu datang dari sesuatu yang bersifat terpaksa.

    Jujur, jika saya tidak lulus, maupun tidak diterima di universitas bagus, saya tidak peduli!

    Waduuh kasian donk sama ortu kamu kalo gak lulus….😛

    Pokoknya hadapi semua hal dengan kepala dingin… keep cool and calm aja lah. Gak usah emosi-emosian. Semoga sukses dengan tahap pendidikan yang kamu jalanin yah.

    Masa Depan kamu memang hak kamu sepenuhnya namun dibalik itu tersimpan kewajiban untuk bisa membahagiakan orang-orang yang telah berjasa membangun masa depan kamu nanti.

    —salam kenal—

  2. Halo, salam kenal juga.🙂

    Namun kita perlu sadar juga bahwa setiap yang kita sukai itu belum tentu itulah yang terbaik bagi kita. Bisa saja kesempatan dan kesenangan itu datang dari sesuatu yang bersifat terpaksa.

    Hmm, bisa jadi. Tapi tidak selalu demikian juga, kan? Mungkin memang bisa saja dari keterpaksaan ada keberhasilan, tapi dari ketidakterpaksaan (*buat kata baru*) juga bisa ada…

    Waduuh kasian donk sama ortu kamu kalo gak lulus…

    Soal ini masih menjadi tanda tanya untuk saya. Mengapa orang tua begitu peduli dengan kelulusan SMA, namun nanti ketika mencari kerja sekedar menyerahkan kepada anaknya? Saya saat ini akan mencari kerja saya sendiri; karena memang, kalau tidak sedang menghabiskan uang, kita harus mencari uang.😛

    Pokoknya hadapi semua hal dengan kepala dingin… keep cool and calm aja lah. Gak usah emosi-emosian. Semoga sukses dengan tahap pendidikan yang kamu jalanin yah.

    Makasih… Stressnya memang kejam.😦

    Masa Depan kamu memang hak kamu sepenuhnya namun dibalik itu tersimpan kewajiban untuk bisa membahagiakan orang-orang yang telah berjasa membangun masa depan kamu nanti.

    … Bahagiakan di saat yang benar-benar berarti aja deh. Kelulusan dan sebagainya tidak menjamin kebahagiaan; keberhasilan iya. Karena itu, kita kejar keberhasilan… Dan itu tidak harus (walaupun bisa) melalui belajar di sekolah.

  3. Saya juga sempat berpikir seperti itu. Dulu. Dan akhirnya terjatuh ke lubang bernama I-Fe-es.. (tanpa maksud mendiskreditkan).😛

    IMO, segalanya masih ada gunanya. Meskipun, memang, detil organ manusia atau operasi aljabar tidak akan selamanya digunakan dalam kehidupan… tapi inti dari ilmu pengetahuan menurut saya adalah: karena ia memiliki guna. Aplikasinya lah yang akan bervariasi tergantung orang.😀

    Sementara ini dipelajari saja apa yang ada. Apa pun itu, ilmu sosial maupun ilmu alam, akan ada gunanya nanti — pasti — walaupun cuma sedikit, walaupun tidak disadari.😀

  4. Kadang yg bikin s*ck bukan pendidikannya tapi pandangan dan sikap orang-orang (terutama ortu) terhadap sistem pendidikan dan sistem karir. Yah untuk sekarang kalau mau jadi wizard ya terpaksa kudu lulus jadi mage dulu.. Ikutin aja dulu. Tapi kalau udah jadi high wizard nanti mari kita cast lord of vermillion bareng sistem pendidikan sampe rata… dan bangun akademi sihir geffen yg lebih baik untuk para novice generasi mendatang (loh kok jadi ragnarok?)😀

  5. Weks. Tumben sangar begini.😛

    Tapi benar juga, sih. Hanya untuk tiga hari. Kedengarannya percuma. Dan jangankan anak SMA yang sudah 12 tahun belajar, anak SD yang masih lucu-lucunya pasti ikutan stres dengan adanya UN buat anak SD.😐

    Tapi toh meskipun begitu, adanya begitu, kan? Semuanya juga pasti stres. Dan kenyataannya kita nggak sendirian. Jadi hadapi saja. Baru kalau sudah punya kekuasaan, kita ubah sistem pendidikan yang bobrok selama ini:mrgreen:
    *ditabok karena sotoy*

    *teringat ucapan Wakasek kesiswaan*
    Ah, apa pula itu. Kurikulum KTSP berbasis life skill? Omong kosong…😈

  6. hmm…

    saia juga punya masalah seperti rizqi. Di kelas saia melawan arus, maksudnya saia ga begitu peduli sama temen2 lain yang ribut sama SPMB or PTN. yang penting saia dapet ilmu, dan mendalami ilmu yang saia sukai yaitu fisika.

    yang sangat saya sayangkan, sistem di sekolah dan perangkatnya (termasuk guru) menebar paradigma belajar versi memuakkan. walaupun ga semua. seperti mengulang pelajaran yang ga membuat pengetahuan kita semakin bertambah, mengulang soal pelajaran bukan memberikan soal yang baru untuk lebih mengasah otak, dll. itulah sistem pengajaran indonesia yang mempunyai target kurang bagus demi peningkatan ilmu penegtahuan dan kekritisan siswa. seharusnya klo sudah menginjak awal SMA, post2 pengetahuan dan skill sudagh dibagi-bagi (kaya pendidikan israel yang sistem dan kurikulumnya bagus sedunia). sambil memprbaiki sistem yang ada. IMO

    saia waktu awal kuliah, sempet melakukan aksi ekstrim yaitu pengen keluar dr PTN t4 saia kuliah. ini dikarenakan, saia ga bgitu suka dg lingkungan t4 saia belajar. karena, menjilat dosen sana-sini itu hal yang udah biasa. tapi saia berpikir kembali. walaupun saia muak tujuh turunan, lantas apakah saia keluar begitu saja. ini ga akan menyelesaikan permasalahan. klo keluar, berarti saia bs dibilang ga struggle. saia ingin liat kemampuan saia bertahan dan berjuang, dan ketika saia tetep bertahan seperti skrg, ternyata ada juga teman sperjuangan yg senasib. lagian, awal kuliah dan ngekos saia dibiayai ortu. knp harus mbuat mereka patah hati? walaupun kita jengkel dengan desakan ortu yang kurang ngerti dengan keadaan kita, yah wajar aja. mungkin pemikiran mereka masih old ttg pendidikan. dan juga saia lebih miris lagi klo mereka menceritakan, betapa mereka dulu susagh bgt ketika sekolah. dan beruntung sekali sekolah, klo naik sepeda dibanding jalan kaki puluhan kilo. so, saia tetep bertahan dengan idealisme saia sendiri dan terbukti…

    maap dik, jadi kepanjangan. klo kata teteh magh, tetep jalanin apa adanya. krn tanggung, sedikit lagi. sedikit lagi lulus sekolah, dan setelah itu rizqi mau minat kemana aja terserah. yang penting bisa struggle. karena, klo dagh ada modal struggle, masuk ke zona non-aman aja kita bisa eksis.

    kecuali, klo memuakkannya sampe berdarah-darah…buru2 aja cabut, sebelum menyesal…he3x…so think about it…

  7. Rizqi…

    semangat yagh…

    banyak temen2 yang doain kok…:D

  8. @steax

    mengeluh di blog tidak akan membawa pengaruh signifikan

    ingin perubahan drastis ?

    gmn kalo anda STOP sekolah dan mulai Fokus menekuni apa yg anda suka, sy liat dirimu punya minat thdp Web Development, nah fokus aja ke situ, modal paling penting untuk hal tsb sudah ada, INTERNET, di sana dirimu kan menemukan semuanya

    hanya pertanyaannya, mau tidak berubah sedrastis itu ? he he

    ini saran aja sih, sy pribadi waktu jaman STM nggak berani kayak gitu, walaupun sempet ada niat ..:D

  9. *menunggu keputusan DO dari Rektor, tapi kayaknya cuma 2 nilai E saja, ah siyal*

  10. homeschooling saja….:))
    (tapi kalo ud kls 3 yg mau uan kyknya telat jg)

  11. Gak kebayang tulisan berbobot yang di hasilkan oleh anak sma hebat

  12. 12 tikabanget™

    betooollll..!!!!!! **semangat**
    luluskan sayah tanpa sekeripsi..!!! **menuntut**

  13. Ah, sejak doeloe saya nggak setuju kualitas lulusan cuma diukur dari nilai UAN yang cuma 3 hari. Mending kalo yang dijadikan ukuran untuk masuk perguruan tinggi adalah skill mereka. Toh, nilai UAN bisa dimanipulasi kalau kita menyontek orang lain.

  14. @p4ndu_454kura:
    68%™ semua nilai di sekolah adalah hasil manipulasi.😀

  15. *hadoh.. salah. 86%™.:mrgreen:

    Jadi sebenarnya ‘apakah sekolah itu?’

  16. Yang Bikin Stress tuh ya kalian sendiri (siswa-siswa sekolah)….

    Kalian malah pasang target berlebihan untuk nilai kalian dengan ikut2 bimbel segala… Coba jaman dulu. Tetangga gw aja ada yg lulus sma dengan nilai matematika 30 !!! Tapi sekarang???

    Kalian cuma terlalu stress aja menanggapi hal yang seperti ini. Belom lagi sikap orang tua jaman sekarang yang kepengen anaknya dicap pinter dengan cara instan.

    Pokoknya keep cool aja lah… biarin orang lain mencak2 gak jelas. Kalo emang kita merasa siap ya tinggal hadapi apapun yang terjadi.

    Suasana belajar yg sesungguhnya baru akan kalian rasakan di Perguruan Tinggi… dimana taktik belajar akan lebih menentukan dibanding kepintaran otak.

  17. well…
    memang nggak adil ketika belajar 2700 hari (include liburan nggak?) hanya ditentuin ma 3 hari. saya dulu juga ngerasa gitu, males mo sekolah. dengan pandangan buruk kepada petugas pendidikan (yang notabene) hanya bisa duduk, beri tugas, ceramah dll. tanpa bisa diandalkan ketika kita menghadapi sesuatu di lapangan. (ga semuanya seh…)🙂
    but… ummmm…gimana ya…
    meskipun gitu saya bersyukur bisa lulus dan lanjut ke kuliah… (liat atas saya. bener juga di PT sangat menarik)
    saya jadi ingat guru debat bhs inggris saya
    ‘kakinya sapi ada berapa?’
    ’empat pak’
    ‘salah’
    ‘lho, lha terus?’
    ‘yg benar ada 8’
    ‘???’
    ‘kalo liat dari depan: 2, samping kiri-kanan: 2x(2)=4, belakang: 2’
    ‘hah…’
    ‘makanya, kalo liat masalah jangan dari satu sisi…. bla…bla…bla…’ lupa, maklum 5 tahun yg lalu… hehehe

    dengan keadaan sekarang, steax (namanya kan) pasti bisa melihat sesuatu dari berbagai aspek. hmmm… dibandingin dengan saya yang sekarang, mungkin masih lebih baik situ.

    so…. semangat. kalahkan 3 hari itu!!!!

  18. 18 Magister of Chaos

    Mau UAN ya….hmm….

    Ya nikmati aja lah masa masa SMA…. kan katanya kamu mau nyantai abis SMA…

  19. Reply time!~

    Saya juga sempat berpikir seperti itu. Dulu. Dan akhirnya terjatuh ke lubang bernama I-Fe-es.. (tanpa maksud mendiskreditkan).

    IMO, segalanya masih ada gunanya. Meskipun, memang, detil organ manusia atau operasi aljabar tidak akan selamanya digunakan dalam kehidupan… tapi inti dari ilmu pengetahuan menurut saya adalah: karena ia memiliki guna. Aplikasinya lah yang akan bervariasi tergantung orang.

    Sementara ini dipelajari saja apa yang ada. Apa pun itu, ilmu sosial maupun ilmu alam, akan ada gunanya nanti — pasti — walaupun cuma sedikit, walaupun tidak disadari.

    Nah, pertanyaannya, apakah praktis, karena kita bisa bahkan tidak mendapat pekerjaan, hanya karena nggak bisa mengenali mana alat yang dipakai orang neolitikum untuk manggil hujan?

    Kadang yg bikin s*ck bukan pendidikannya tapi pandangan dan sikap orang-orang (terutama ortu) terhadap sistem pendidikan dan sistem karir. Yah untuk sekarang kalau mau jadi wizard ya terpaksa kudu lulus jadi mage dulu.. Ikutin aja dulu. Tapi kalau udah jadi high wizard nanti mari kita cast lord of vermillion bareng sistem pendidikan sampe rata… dan bangun akademi sihir geffen yg lebih baik untuk para novice generasi mendatang (loh kok jadi ragnarok?)

    Itu dia, saya lagi cari jalan lain. Bisa saja kan minta tolong game master hahaha😛

    Weks. Tumben sangar begini.

    Tapi benar juga, sih. Hanya untuk tiga hari. Kedengarannya percuma. Dan jangankan anak SMA yang sudah 12 tahun belajar, anak SD yang masih lucu-lucunya pasti ikutan stres dengan adanya UN buat anak SD.

    Tapi toh meskipun begitu, adanya begitu, kan? Semuanya juga pasti stres. Dan kenyataannya kita nggak sendirian. Jadi hadapi saja. Baru kalau sudah punya kekuasaan, kita ubah sistem pendidikan yang bobrok selama ini
    *ditabok karena sotoy*

    *teringat ucapan Wakasek kesiswaan*
    Ah, apa pula itu. Kurikulum KTSP berbasis life skill? Omong kosong…

    Jangan pernah pasrah! Hadapi bukan berarti kita harus menanggung kerugiannya. Bisa juga menghadapi dan melawan siksaan itu.:mrgreen:

    hmm…

    saia juga punya masalah seperti rizqi. Di kelas saia melawan arus, maksudnya saia ga begitu peduli sama temen2 lain yang ribut sama SPMB or PTN. yang penting saia dapet ilmu, dan mendalami ilmu yang saia sukai yaitu fisika.

    yang sangat saya sayangkan, sistem di sekolah dan perangkatnya (termasuk guru) menebar paradigma belajar versi memuakkan. walaupun ga semua. seperti mengulang pelajaran yang ga membuat pengetahuan kita semakin bertambah, mengulang soal pelajaran bukan memberikan soal yang baru untuk lebih mengasah otak, dll. itulah sistem pengajaran indonesia yang mempunyai target kurang bagus demi peningkatan ilmu penegtahuan dan kekritisan siswa. seharusnya klo sudah menginjak awal SMA, post2 pengetahuan dan skill sudagh dibagi-bagi (kaya pendidikan israel yang sistem dan kurikulumnya bagus sedunia). sambil memprbaiki sistem yang ada. IMO

    saia waktu awal kuliah, sempet melakukan aksi ekstrim yaitu pengen keluar dr PTN t4 saia kuliah. ini dikarenakan, saia ga bgitu suka dg lingkungan t4 saia belajar. karena, menjilat dosen sana-sini itu hal yang udah biasa. tapi saia berpikir kembali. walaupun saia muak tujuh turunan, lantas apakah saia keluar begitu saja. ini ga akan menyelesaikan permasalahan. klo keluar, berarti saia bs dibilang ga struggle. saia ingin liat kemampuan saia bertahan dan berjuang, dan ketika saia tetep bertahan seperti skrg, ternyata ada juga teman sperjuangan yg senasib. lagian, awal kuliah dan ngekos saia dibiayai ortu. knp harus mbuat mereka patah hati? walaupun kita jengkel dengan desakan ortu yang kurang ngerti dengan keadaan kita, yah wajar aja. mungkin pemikiran mereka masih old ttg pendidikan. dan juga saia lebih miris lagi klo mereka menceritakan, betapa mereka dulu susagh bgt ketika sekolah. dan beruntung sekali sekolah, klo naik sepeda dibanding jalan kaki puluhan kilo. so, saia tetep bertahan dengan idealisme saia sendiri dan terbukti…

    maap dik, jadi kepanjangan. klo kata teteh magh, tetep jalanin apa adanya. krn tanggung, sedikit lagi. sedikit lagi lulus sekolah, dan setelah itu rizqi mau minat kemana aja terserah. yang penting bisa struggle. karena, klo dagh ada modal struggle, masuk ke zona non-aman aja kita bisa eksis.

    kecuali, klo memuakkannya sampe berdarah-darah…buru2 aja cabut, sebelum menyesal…he3x…so think about it…

    Benar juga… Saya hanya mempertimbangkan, apakah sesuai strugglenya dengan yang dicapai. Saya sekedar merasa, kalau memang saya ingin sesuatu di luar sekolah, maka tidak berguna mendorong terus… Begitu.😦 Makasih doanya ya…

    @steax

    mengeluh di blog tidak akan membawa pengaruh signifikan

    ingin perubahan drastis ?

    gmn kalo anda STOP sekolah dan mulai Fokus menekuni apa yg anda suka, sy liat dirimu punya minat thdp Web Development, nah fokus aja ke situ, modal paling penting untuk hal tsb sudah ada, INTERNET, di sana dirimu kan menemukan semuanya

    hanya pertanyaannya, mau tidak berubah sedrastis itu ? he he

    ini saran aja sih, sy pribadi waktu jaman STM nggak berani kayak gitu, walaupun sempet ada niat ..:D

    Tepat yang sedang saya lakukan! Saat ini saya sedang mendevelop kembali beberapa applikasi yang sedang saya kerjakan.. Tanpa menghiraukan sekolah, hahaha.😛

    *menunggu keputusan DO dari Rektor, tapi kayaknya cuma 2 nilai E saja, ah siyal*

    Kurang ya…?😕

    homeschooling saja….:))
    (tapi kalo ud kls 3 yg mau uan kyknya telat jg)

    Asik juga, tapi ya… Telat.😦

    Gak kebayang tulisan berbobot yang di hasilkan oleh anak sma hebat

    Berbobotkah..? Setahu saya data nggak punya bobot.😛

    betooollll..!!!!!! **semangat**
    luluskan sayah tanpa sekeripsi..!!! **menuntut**

    Lucu juga ya, persyaratan skripsi. Tidak semua orang berniat skripsi… Tapi itu setidaknya jauh lebih bagik daripada saya yang harus mempelajari ngobrol dengan bahasa jepang untuk lulus…

    Ah, sejak doeloe saya nggak setuju kualitas lulusan cuma diukur dari nilai UAN yang cuma 3 hari. Mending kalo yang dijadikan ukuran untuk masuk perguruan tinggi adalah skill mereka. Toh, nilai UAN bisa dimanipulasi kalau kita menyontek orang lain.

    Bahkan ada pula rumor-rumor kalau sekolah juga bisa memanipulasi nilai kita… Entah bagaimana.😕

    Yang Bikin Stress tuh ya kalian sendiri (siswa-siswa sekolah)….

    Kalian malah pasang target berlebihan untuk nilai kalian dengan ikut2 bimbel segala… Coba jaman dulu. Tetangga gw aja ada yg lulus sma dengan nilai matematika 30 !!! Tapi sekarang???

    Kalian cuma terlalu stress aja menanggapi hal yang seperti ini. Belom lagi sikap orang tua jaman sekarang yang kepengen anaknya dicap pinter dengan cara instan.

    Pokoknya keep cool aja lah… biarin orang lain mencak2 gak jelas. Kalo emang kita merasa siap ya tinggal hadapi apapun yang terjadi.

    Suasana belajar yg sesungguhnya baru akan kalian rasakan di Perguruan Tinggi… dimana taktik belajar akan lebih menentukan dibanding kepintaran otak.

    Yang pasang target bukan kita; kita juga maunya nggak usah susah-susah. Yang menekan keluarga dan sekolah… Sekolah saya bahkan mau meningkatkan lagi minimum kelulusan menjadi tujuh. Benar-benar wadehel…

    well…
    memang nggak adil ketika belajar 2700 hari (include liburan nggak?) hanya ditentuin ma 3 hari. saya dulu juga ngerasa gitu, males mo sekolah. dengan pandangan buruk kepada petugas pendidikan (yang notabene) hanya bisa duduk, beri tugas, ceramah dll. tanpa bisa diandalkan ketika kita menghadapi sesuatu di lapangan. (ga semuanya seh…)
    but… ummmm…gimana ya…
    meskipun gitu saya bersyukur bisa lulus dan lanjut ke kuliah… (liat atas saya. bener juga di PT sangat menarik)
    saya jadi ingat guru debat bhs inggris saya
    ‘kakinya sapi ada berapa?’
    ‘empat pak’
    ’salah’
    ‘lho, lha terus?’
    ‘yg benar ada 8′
    ‘???’
    ‘kalo liat dari depan: 2, samping kiri-kanan: 2x(2)=4, belakang: 2′
    ‘hah…’
    ‘makanya, kalo liat masalah jangan dari satu sisi…. bla…bla…bla…’ lupa, maklum 5 tahun yg lalu… hehehe

    dengan keadaan sekarang, steax (namanya kan) pasti bisa melihat sesuatu dari berbagai aspek. hmmm… dibandingin dengan saya yang sekarang, mungkin masih lebih baik situ.

    so…. semangat. kalahkan 3 hari itu!!!!

    Sudah termasuk rata-rata liburan.:mrgreen: Iyah, kita semua berjuang… Tapi seorang prajurit yang berjuang tanpa mengetahui apa yang ia perjuangkan sama saja tidak berguna. Berjuang untuk masa depan? Tidak juga. Berjuang untuk kehormatan, lebih dekat sepertinya.😀

    Mau UAN ya….hmm….

    Ya nikmati aja lah masa masa SMA…. kan katanya kamu mau nyantai abis SMA…

    Betul! Saatnya menikmati SMA. *bakar buku pelajaran yang menghilangkan “menikmati” dari kalimat itu*

  20. 20 Darkness666

    enjoy aja….

    kalo pengen berhasil abis sma, yakin aja klo lu bisa berhasil! trust me… why don’t u read this?

  21. 21 Darkness666

    http://deathdoor.wordpress.com/2008/03/03/can-you-do-it-i-belive-you-can/

    sori doble post, jaga2 kalo yang diatas gak jalan…

  22. 22 Dream Maker

    sekolah = tempat untuk buang2 waktu / bersenang2 dengan teman

    sekolah = tempat dimana bisa mendapatkan kepuasan dengan cara mengalahkan guru super ngotot di debat…

    sekolah = tempat untuk bertemu dengna guru yang funky

    [dijitak]

    kalo ga suka pelajarannya gak usah dengerin… aku juga kalo ga suka pelajarannya malah maen gameboy di kelas… [sebenernya jangan ditiru, tapi kalo mau juga boleh… risiko barang disita tanggung sendiri =))]

  23. djamiee…
    sabar!
    harus rajin belajar,, udah mo usm/spmb/uan,, hehehe ;p

    btw blog lo RAME SEKALI !!!!
    waaa….

  24. 24 rizkivmaster

    Wah2, anda mau protes ato mau nasihatin sih? Bingun saia. Ya ternyata belajar memang memuakkan, tetapi akan sangat disesalkan jika ternyata kita tidak mau lagi belajar. Btw Salam Kenal yang kedua kalinya.

  25. @Darkness666: Iya, saya baca… Makasih ya, bacaannya bagus.🙂

    @Dream Maker: Hmm, kalau nggak suka ya bisa sih saya diem aja. Masalahnya kalau seperti itu, sama aja memasang tanda besar di atas kepala “TOLONG MARAHI SAYA”.😛

    @Deon: Wah, ada blog sendiri yaa? Hebat:mrgreen: Iya, akan (diupayakan) untuk (sedikit) belajar (secukupnya) buat UN…😀

    @rizkivmaster: Iyap, salam kenal juga untuk kedua kalinya, haha. Wah, tulisan emosian seperti ini saya nggak tahu deh sebenarnya apa. Maap jadi binung…:mrgreen:

  26. 26 Anune Bengkong

    Hanya satu kalimat: Yang kita perlukan hanyalah menemukan ‘the congeniality of a learning process’…

  27. salam kenal,
    saya juga kurang semangat kalo kompetisi dalam nilai ulangan, tapi lebih semangat kalo kompetisi dalam lomba-lomba macam lomba mapel ato olimpiade, soale dalam lomba hampir mustahil pada contek-contekan:mrgreen:

  28. Kalo saya sekarang ngga semangat sekolah karena udah 2 bulan sakit, sekarang udah hampir mid-semester. Ancaman tidak naik kelas sudah di depan mata👿
    *terpaksa ambil cuti sekolah kayaknya*😥

  29. APDEETT…!
    *digampar*

  30. Yang penting jangan homeschooling (untuk saat ini). Kenapa? Karena ngga jelas siapa yang mengeluarkan ijazahnya. Jadi kalaupun katanya sudah lulus, diluluskannya oleh siapa?😛
    *kopas kalimat papi-mami*

  31. Dunia itu menggila…:mrgreen:

    Hanya satu kalimat: Yang kita perlukan hanyalah menemukan ‘the congeniality of a learning process’…

    Siapa yang mau menemukan yaaaaa?😦

    salam kenal,
    saya juga kurang semangat kalo kompetisi dalam nilai ulangan, tapi lebih semangat kalo kompetisi dalam lomba-lomba macam lomba mapel ato olimpiade, soale dalam lomba hampir mustahil pada contek-contekan

    Salam kenal juga…🙂 Olimpiade dan sejenisnya sering diberikan citra buruk karena dianggap sebagai persaingan orang-orang pinar sehingga direndahkan… Akibatnya, tidak bisa dibanggakan seperti seharusnya.😕

    Kalo saya sekarang ngga semangat sekolah karena udah 2 bulan sakit, sekarang udah hampir mid-semester. Ancaman tidak naik kelas sudah di depan mata
    *terpaksa ambil cuti sekolah kayaknya*

    Ada nggak penyakit yang nggak menyakitkan, nggak membahayakan, tp bisa bikin nggak perlu skolah?😛 Cepat sembuh, mbak…

    APDEETT…!
    *digampar*

    Ho oh, sebentar…:mrgreen:

    Yang penting jangan homeschooling (untuk saat ini). Kenapa? Karena ngga jelas siapa yang mengeluarkan ijazahnya. Jadi kalaupun katanya sudah lulus, diluluskannya oleh siapa?
    *kopas kalimat papi-mami*

    Kalau mau memakai prinsip orang indonesia: yang penting lulus, kalau detail-detail seperti itu belakangan aja (meskipun biasanya kehancurang orang tersebut ada di detail itu).😛

  32. Lupa menanggapi tanggapan komen sebelumnya gara-gara fast-reading😛

    Nah, pertanyaannya, apakah praktis, karena kita bisa bahkan tidak mendapat pekerjaan, hanya karena nggak bisa mengenali mana alat yang dipakai orang neolitikum untuk manggil hujan?

    Sejarah cuma UAS kan?😛 Tak apa-apa…

    Mungkin memang tidak praktis. Tapi pengetahuan umum itu bisa jadi berguna di masa depan, IMO. Karena (IMO lagi) kita tidak benar-benar tahu simpanan memori mana yang akan tersimpan di otak kita puluhan tahun nanti.:mrgreen:

    Misalnya, siapa tahu itu bisa berguna ketika mendidik anak yang kebetulan minatnya belum tentu sejalan dengan orang tuanya?😀

  33. Hmm, lihat deh kombo Ujian Akhir Sekolah: Sejarah, Agama, Kewarganegaraan, dan Komputer. Bagi saya, itu benar-benar wadehel banget…😕

    Selalu “Siapa tahu”… Hehehe.

  34. Hmm, lihat deh kombo Ujian Akhir Sekolah: Sejarah, Agama, Kewarganegaraan, dan Komputer. Bagi saya, itu benar-benar wadehel banget…😕

    Selalu “Siapa tahu”… Hehehe.

    Maknyus…😐
    *teringat semester lalu dimana hampir semua kelas X tidak lulus ujian fisika*

  35. @steax:

    Selalu “Siapa tahu”… Hehehe.

    Ya ampun, SpongeBob. Benar juga!😆
    Ingin jawaban yang rasional dan pasti kah?:mrgreen: *ini fallacy bukan ya?😛 *

    Dan menyoal UAS Komputer tertulis, saya rasa benar-benar tidak ada gunanya. Karena melatih murid buat menghapal soal dan jawaban, bukan konsep (lebih buruk dari textbook).:mrgreen:

    …oh, tunggu dulu. Hal itu bisa berguna buat menghapal bocoran UAN dan mindset yang statis nantinya!😀

  36. Saya tidak habis pikir kenapa saya harus belajar matematika, fisika dan biologi, kalau saya ingin mengambil jurusan yang sama sekali tidak ada hubungannya. Tentu ketiga mata pelajaran itu berguna, tapi bukankah cukup dengan mengetahui dasarnya saja sebagai pengetahuan umum? Begitu juga dengan sejarah. Memang penting agara kita mengetahui sejarah negara kita, tapi ini terlalu berlebihan.

    I mean, it’s not like I’m going to be asked the exact route of some expedition when I’m interviewed for a job. Geez.. =(

  37. SpongeBob SELALU BENAR! All hail the slimy square smelly squishy sponge!

    Terkenang fisika nih…😦

    @Illona: Nggak seperti kita akan ditanya berapa energi ikat partikel dalam atom hidrogen saat sedang memasak untuk makan siang di rumah kita…😛 Memang rada-rada gila. Biasanya kalau ditanya jawabannya sederhana saja, “mengasah otak”. Masalahnya… Ini mengasah, atau mengobrak-abrik otak?

  38. @steax
    Too much knowledge isn’t going to get you anywhere. It’s going to blow your brains, that’s what it’s gonna do to ya.😉

  39. ~ I have my new favorite quote!

  40. ane setuju..
    mari kita sama2 membangun perlawanan..!!


  1. 1 Suatu Hal Yang Penting « Deathlock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: