Alasan Mengapa Berpikir Tidak Memilih Di Pemilu

28Jan09

Katanya sekarang kalau nggak ikut memilih, hukumnya berat. Tapi kalau cuma diancam, ya nanti palingan asal pilih saja. Karena saya nggak yakin kalau saya peduli dengan hasil suatu pemilu.

Janji-janji bodoh diungkapkan di pemilu.

BBM Turun?

Jangan! Buatlah BBM mahal. Manusia selama dua ratus tahun terakhir dimanjakan dengan minyak murah. Kita nggak punya waktu banyak lagi. Semakin manja Indonesia pada minyak (yang sendirinya sebagai produsen minyak tapi nggak bisa mengendalikannya), semakin cepat kita akan roboh ketika BBM melangka. Toh ada alternatif. Banyak pula alternatifnya. Dan masing-masing lebih logis daripada sebelumnya. Ethanol? Surya? Hidrogen? Sepantasnya kita investasi dalam alternatif sebelum kita terjebak sendiri.

Maka saya tidak memilih kanidat yang mengumbar janji akan menurunkan harga BBM.

Angkutan Umum Lebih Murah?

Lagi-lagi pikiran jangka pendek. Masalah dengan angkutan umum kita bukan harga, melainkan kualitas. Apa politikus-politikus itu nggak melihat di negara lain, bahwa memang public transport itu tujuannya bukan semurah-murahnya, melainkan yang bisa diandalkan, nyaman, aman, dan teratur. Saya rasa keempat faktor itu gagal dicapai oleh angkutan umum di Indonesia saat ini. Biarlah harga angkutan mahal, atau kalau perlu buatlah lebih mahal, dan perbaiki sistem yang kacau, misalnya angkot. Lebih parah lagi, masyarakat yang dimanjakan oleh angkutan murah dan tidak memiliki aturan menyebabkan budaya ini terbawa sehingga tidak peduli dengan aturan – tampak pada orang Indonesia di negeri lain.

Kalau saya presiden, saya akan memberhentikan seluruh jenis angkutan seperti angkot dan bis yang kacau, lalu menggantinya dengan sistem yang terjadwal dan bisa diandalkan. Transjakarta adalah contoh yang baik.

Harga Sembako Turun?

Bah. Ada-ada saja. Janji “sembako turun” ini hanya pada harga pemerintah. Lagi lagi hanya harga, bukan sistemnya sendiri. Apa arti harga kalau di mana-mana persawahan rusak dan dicuekin, hutan dibabat illegal, industri kayu profesional melemah, dan pengalihan fungsi hutan terjadi di mana-mana? Masyarakat miskin, dan itu bukan berarti harga perlu diturunkan, tapi berarti kemiskinan yang perlu dihapuskan! Kita punya potensi. Oh, tentu ada, banyak yang menyadarinya. Lalu kenapa hanya menjanjikan harga sembako turun, tapi kemiskinan itu sendiri tidak diperbaiki? Perbaiki persawahan! Perkuat industri lokal, dan perbaiki birokrasi sehingga perusahaan-perusahaan yang baik dapat menangani hutan kita. Bawa masuk ahli untuk menangani kondisi pangan. Bantu petani. Jangan menurunkan harga bagi mereka yang miskin, tapi angkatlah mereka sehingga harga sekarang tidak menjadi masalah lagi.

Harga hanya illusi dan angka.

Pendidikan Murah?

Sudah terlihat bahwa di suatu SD yang gratis, murid justru sengaja tidak masuk atau tidak naik kelas. Kan gratis. Lebih parah lagi, orangtuanya mendukung, atas pemikiran yang sama. Terlihat jelas sekali bahwa masalahnya bukan harga, tapi pemahaman orang Indonesia bahwa pendidikan itu penting. Apa arti harga yang rendah kalau mereka nggak niat bersekolah? Biarlah, saya juga dapat sebagian besar ilmu dari TV international, internet, dan buku. Dan saya rasa saya nggak sendiri. Jadi mudahkan sambungan TV international, permurah Internet, dan sediakan perpustakaan umum. Begitu banyak potensi, tapi yang dimurahkan di pihak yang salah. Huh.

Murah membuat seseorang dipilih jadi presiden, tapi tidak berarti bagi Indonesia.

Karena Politikus Itu Fast Food. Enak, Menarik, tapi…

Ya. Mereka mencari jalan cepat dan mudah, menyuguhkan pilihan “gampang”. Memang teknik yang sesuai. Anak kecil minta permen? Kasih permen. Buat apa susah-susah menjelaskan tentang kesehatan gigi, kalau bisa langsung kasih dan dia diam. Begitu pula di sini. Politikus memberi kita tawaran menggiurkan, yang seakan-akan instan memudahkan hidup kita, padahal sebenarnya ia tidak memperbaiki apa-apa. Hanya harga, uang, dan hal-hal berat yang sebenarnya bukan masalah itu sendiri yang ditangani. Kita mau Indonesia maju, bukan hidup jadi serba enak! Tentu akan ada pengorbanan – investasi, kerja keras, sedikit memaksa kita mengubah gaya hidup – tapi kita akan maju!



11 Responses to “Alasan Mengapa Berpikir Tidak Memilih Di Pemilu”

  1. Tulisan yg bagus, Steax.

    Harga yang murah justru membuat masyarakat kita tambah kacau.

    Mahalin BBM! Mahalin Angkutan Umum! Mahalin Barang2!

    Jadinya mereka bakal berpikir berkali2 untuk hidup Konsumtif

    SIngapura dan Jepang yg mahal2 semuanya malah jadi bener kan?

  2. Harga murah -> konsumtif -> merasa serba enak -> tidak mempedulikan kondisi global sesungguhnya -> tertinggal!

    Indonesia harus face facts. BBM itu mau habis dan akan habis dalam waktu dekat! Jangan mengulur-ulur waktu kita menikmati BBM… Pemerintah bodoh… *sigh*

    Sama kayak anak kecil dikasih uang 100rb sama 5rb.. 100rb menandakan orangtua yang baik hati tapi si anak bakal berboros-boros dan meminta uang lagi… 5rb menandakan orangtua yang bijak dan si anak akan belajar menggunakan uang dengan benar…

    Pemerintah mau baik hati atau bijak?

  3. haha. kalau mau jadi pemerintah mah harus bijak ya. baik kalo gak bijak percuma.

  4. Visi dan misi hebat-hebat yang sebenarnya merupakan program rencana penghancuran bangsa berbalut janji-janji menggiurkan.πŸ˜›
    Secara sekilas dan jika dilihat dari kacamata finansial, kebijakan-kebijakan mengenai harga tersebut memang terdengar enak di telinga.
    Ya, perbaikan itu memang kadang harus menyakitkan..

  5. Hehehe…saya dah antipati kalo ada yang bilang “murah” gitu. Saya kok percaya kalo barang bagus itu harus mahal. Pendidikan yang bagus itu harus mahal, setidaknya buat nggaji guru dan pengadaan fasilitas yang layak seperti perpustakaan dsb. Masalah bagaimana caranya biar pendidikan yang mahal itu bisa diakses oleh berbagai lapisan masyarakat itu problem yang berbeda. Demikian juga dengan hal lain seperti transportasi umum.πŸ™‚

    Salam kenal:mrgreen:

  6. yup, saya setuju ma lambrtz.
    Pantas saja kalau banyak oknum yang mengirim BBM Indonesia ke Singapura or Malaysia, secara mereka bisa dapat harga yang lebih bagus untuk barang yang sama dibanding dengan di Indonesia.
    Sekarang ya itu, gimana membuat seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat menikmati fasilitas itu, dan mengecilkan jurang pemisah antar lapisan masyarakat

  7. setuju sama bung Stik…
    pilihan2 instan begitu adalah pembodohan masyarakat,,
    masyarakat kita menjad ‘terdidik’ dengan pola hidup konsumtif…
    liat saja, perang tarip selular secara tidak langsung memiliki dampak negatif terhadap konsumtifitas masyarakat terhadap produk2 selular…πŸ˜‰

  8. 8 Kade

    Just dropping by.Btw, you website have great content!

    ______________________________
    Seized Cars From $100, Boats, Real Estate, Collectibles And Jewelry. Government And Police Auctions Online

  9. hahahaha…
    jadi ga ada yg ideal neh caleg?

    golput aja wes…

  10. 10 orang

    anak muda hidup dalam idealismenya…..
    asal jangan apatis dengan keadaan….
    ok2…. semangat bergerak melakukan perubahan ke arah yang lebih baik…..
    harapan itu masih ada

  11. 11 rizkivmaster

    Kita semakin jauh dari menghargai sebuah makna kehidupan. Janji dijadikan tolok ukur untuk dipilih. Dibalik itu orang-orang susah sekarang dijadikan objek untuk menggalang suara, tetapi tetap saja dari tahun ke tahun dibuat semakin menderita, dibola-bola-in akibat janji palsu. Saat ini, menjadi legislatif katanya enak, tujuannya bukan lagi mengemban amanah, tetapi mengemban duit, (baca:”komersial” bahasa inggrisnya). Oleh karena itu, Kembalilah ke hakikatnya menjadi seorang “wakil rakyat”.
    Hehehe, enak juga nih belajar bicara politik. Hihihhi…
    Halo bang, dah lama gak ketemu, di blog ini maksudna, gimana kuliahnya…? Moga lancar selalu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: