HTML vs WordPress dkk

11Jun09

Ini udah lama jadi pembicaraan antara para designer dan developer. Kalau lagi buat website untuk klien, enaknya langsung dicolok CMS (ala WordPress atau salah satu teman-temannya) atau tawarin mentah sebagai HTML/CSS.

Pilihan kita:

  • HTML mentah berarti hanya menawarkan design dan tempat mengisi teksnya. Biasanya si designer akan langsung meminta teks dari klien saat website dibuat, diisi ke dalam file HTML, dan selamanya nggak berubah lagi.
  • CMS memungkinkan si pengguna mengisi kontennya sendiri. CMS ada macam-acam, antara lain WordPress (yang lebih tertuju pada blogging) atau sistem serupa seperti MediaWiki untuk wiki.

Yang jelas, trend “Web 2.0” mendorong developer sekarang untuk buat website yang fleksibel; dengan kata lain, memanfaatkan CMS. Jaman sekarang, jarang ada website yang berbentuk baku dan nggak memanfaatkan suatu sistem agar si klien dapat memegang kendali pribadi atas websitenya. Lagipula, kenapa tidak?

Dalam suatu website, si klien wajib merasa memiliki websitenya. Jangan sampai ia merasa website perusahaannya bukan tanggung jawab pribadinya dan dilimpahkan begitu saja pada si developer (yang biasanya juga menelantarkannya). Walhasil semuanya cuek ama si website dan iapun tenggelam dalam kebinasaan. Hayoloh.

Jadi kenapa developer masih ada yang memilih menawarkan website yang dipaksa pure HTML/CSS tanpa CMS? Jika kita cari-cari sejenak di google tentang jasa pembuatan website dalam negeri, banyak yang tidak hanya membatasi fitur yang harusnya selalu ada (kontak, dst), mereka bahkan membatasi jumlah halaman, jumlah produk, atau jumlah teks. Alasannya?

Duit.

Dunia web development dalam negeri sekarang dimonopoli oleh satu hal yang disebut duit itu. Uang, uang dan uang. Ini bisa kita sambungkan ke pertanyaan kenapa Telkom Speedy menawarkan paket internet berbeda dengan batasan bandwidth? Teknisnya, Telkom sendiri tidak begitu kerugian bila kita memakai bandwidth dalam jumlah besar (asal nggak kelewatan).  Alasannya, ya, uang.

Saya suka menyebut perusahaan layanan di Indonesia sebagai “pelit”. Bukan karena harganya yang keji (walaupun sebagian memang begitu) tapi karena hal yang harusnya tidak mahal dibuat mahal. Nambah halaman/data sebuah website itu harusnya gratis, kecuali keterbatasan ukuran (itupun harusnya nggak pelit-pelit banget). Nambah foto, sistem halaman yang fleksibel, jumlah produk, fitur search, formulir kontak; itu semua harusnya gratis dan nggak dibatas-batasi.

Pakailah CMS. Developer, berhenti memaksa batasan aneh-aneh pada klien anda dan didiklah klien anda agar mengerti tentang keterbatasan suatu website. Kalau bisa, tentukan seseorang yang memiliki tugas khusus mengurus isi website itu dan didiklah orang itu.

Tentunya ini asumsi bahwa semua developer bisa menulis untuk dunia web…

Artikel selanjutnya tentang menulis untuk web.



6 Responses to “HTML vs WordPress dkk”

  1. Hahahaa… Benar ituh. Banyakan masih tradisional, servisnya nambah guestbook lah, ini itu lah. OMG.

    Hal yang tidak mahal dibuat mahal. Nah itu, aku sering melihat mereka yang memasang tarif lumayan tinggi tapi theme/layout/template CMS yang ada di portfolio klien-kliennya kulihat cuma dari theme/layout/template gratisan, yang paling di-edit sendiri.😦
    Itu developer yang menangani klien-klien Indonesia sih… tapi yang di luar juga ada kayak gini, cuma dikit.

    *merasa miris sebagai orang yang mengutamakan bikin desain sendiri buat klien*😛

    • 2 steax

      Anda sendiri sebagai developer wordpress brarti biasa dengan fleksibilitas WP… Saya sedih sih lihatnya di jasa-jasa itu dibatasi jumlah produk, halaman gitu2… Berarti si klien sendiri nggak dikasih kendali buat CMS yang dipakai kan. Lalu si developer sendiri dikasih kekuasaan sepenuhnya atas website. Dan dengan aturan dasar developer =/= writer… Kacau😀

      • Saya selalu menyarankan klien pakai WP, kecuali ada yang minta Joomla kadang-kadang. Benar itu, rasanya seperti mau enaknya saja kalau cuma memberi HTML thok klien yang nggak ta apa-apa. Dapat duwit banyak dengan kerja dikit.😛

        Mau cerita lebih banyak, tapi ahsudahlah. *ngupi + ngudut samsu sambil kejar dedlen*

  2. 4 steax

    Ini ga bisa dinest dalem2 ya komennya ~.~
    Banyak orang ketarik ke bidang webdev kayaknya cm karena ‘lagi trend’, ‘keren’, sama ‘duit banyak’. Jadinya kebawa deh…

    WP FTW😀

    *mulai nulis post berikutnya yang padat link

  3. Html vs WP mah pasti menang WP, ane juga milih wp sebab ya selain mudah dan gampang diutak atik. Dan layanannya gratis lagi. lengkap sudah kemenangan WP. Hidup CMS atawa WP.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: